GoPot(ehi): Diluncurkan di Semarang, Siap Menjelajah Nusantara

Share the knowledge!
  • 43
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    43
    Shares

Pepatah “hidup segan mati tak mau” nampaknya cocok menggambarkan eksistensi wayang potehi di Indonesia selama lima dasawarsa terakhir. Semenjak dilarangnya ekspresi kebudayaan Tionghoa oleh pemerintah Orde Baru pada 1967, praktis kesenian khas Tionghoa Hokkian ini lenyap dari pandangan masyarakat umum. Reformasi 1998 dan dukungan Presiden keempat, Abdurrahman Wahid, yang mencabut Inpres No 14 Tahun 1967 yang diskriminatif itu, menggairahkan kemunculan kembali tradisi Tionghoa, termasuk wayang potehi. Di banyak kelenteng, terutama menjelang dan selama perayaan Imlek, acap dijumpai pergelaran wayang potehi. Namun demikian popularitasnya tak bisa lagi menyamai masa-masa sebelum pelarangan. Menjembatani Wayang Potehi untuk Dinikmati Lintas Generasi Generasi milenial Tionghoa khususnya […]


Share the knowledge!
  • 43
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    43
    Shares

Potret Kerukunan Beragama di Tengah Pandemi Covid-19

Share the knowledge!
  • 6
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    6
    Shares

Kamis lalu saya ngabuburit asik dengan ikut menyimak anak-anak muda ngobrol tentang kerukunan beragama melalui YouTube livestreaming LBH Semarang. Obrolan yang dinamai Ngobrol Pintar Sareng Rencang (NgoPi SaRe) mengusung tema “Potret Kerukunan Beragama di tengah Pandemi Covid-19”. Intoleransi di Masa Krisis Pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini menimbulkan dampak dalam banyak hal, tak terkecuali kehidupan kerukunan beragama di Indonesia. Peristiwa yang memprihatinkan terlihat dalam video yang viral beberapa waktu lalu, terlihat terjadi persekusi terhadap umat beragama yang melaksanakan ibadah di rumah oleh warga masyarakat. Padahal ibadah di rumah merupakan anjuran dari pemerintah guna mencegah penyebaran Covid-19. Dari peristiwa yang terjadi […]


Share the knowledge!
  • 6
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    6
    Shares

Kisah Hidup dr. Oen: Mematahkan Stereotip Negatif Etnis Tionghoa

Share the knowledge!
  • 6
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    6
    Shares

Ulasan Buku Judul buku: Dr. Oen – Pejuang dan Pengayom Rakyat KecilPenulis: RavandoPenerbit: Penerbit Buku KompasTahun Terbit: 2017Tebal: xxxii + 272 halaman Nama dr. Oen adalah satu nama yang tak asing dalam dunia medis Indonesia. Bagi masyarakat umum, mungkin nama tersebut hanya berasosiasi dengan nama sebuah rumah sakit di Surakarta. Namun bagi masyarakat Surakarta, nama dr. Oen mempunyai tempat istimewa di hati. Dokter Oen adalah sesosok dokter yang benar-benar mencerminkan tugas dan kewajiban seorang dokter yaitu menyembuhkan sakit pada semua orang tanpa memandang latar belakang apapun. Oen Boen Ing, nama lengkap dr. Oen, adalah anak seorang pedagang tembakau asal Salatiga, […]


Share the knowledge!
  • 6
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    6
    Shares

Weslly Johannes, Penyintas Konflik Ambon yang Bertekad Memutus Kebencian

Share the knowledge!
  • 885
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    885
    Shares

Ketika kerusuhan meletus pertama kali di Ambon bulan Januari 1999, Pulau Buru belum langsung terkena dampaknya. Meskipun demikian, rumor menyebar luas dengan cepat, membuat ketakutan warga Kristen yang tinggal di pulau yang mayoritasnya Islam itu, termasuk keluarga Weslly Johannes. “Hampir setahun kemudian, bulan Desember, saya dibangunkan ayah dan disuruh siap-siap mengungsi ke Ambon,” kenang Weslly yang kini aktif di Paparisa Ambon Bergerak, saat menjadi pemantik diskusi di pemutaran film “Beta Mau Jumpa” hari Jumat (28/2) lalu di Gedung Teater Thomas Aquinas Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata. Teror yang dia saksikan dan dengar membuat emosinya bergejolak. “Waktu itu saya benci pada ‘Islam’ […]


Share the knowledge!
  • 885
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    885
    Shares

Beta Mau Jumpa: Pergulatan Memutus Narasi Kebencian di Ambon

Share the knowledge!
  • 33
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    33
    Shares

Lampu diredupkan dan film pun mulai diputar. Warna-warni lantunan pujian di gereja dan orang shalat di masjid muncul silih berganti dengan cuplikan hitam putih adegan warga menggotong mayat atau membidikkan senapan, truk-truk militer yang hilir mudik di jalanan kota, anak-anak dan warga lansia yang lesu di lokasi pengungsian. Lalu suara narator muncul, berkisah tentang insiden tanggal 19 Januari 1999. Di terminal Batu Merah, terjadi cekcok soal uang setoran antara supir angkot dan preman yang berujung perkelahian. Sepertinya sepele, tapi ternyata ribut kecil itu dengan cepat meluas jadi konflik berdarah ke seluruh Ambon. Dalam tiga tahun, setidaknya 5000 orang tewas. Untuk […]


Share the knowledge!
  • 33
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    33
    Shares

Widjajanti Dharmowijono: Menembus Kabut Prasangka dan Stereotip terhadap Para Leluhur

Share the knowledge!
  • 81
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    81
    Shares

“Menurut saya, orang Cina yang masih tidak mau disebut Cina, tapi maunya disebut Tionghoa; orang-orang itu menurut saya masih terus berada di bawah cengkeraman Orde Baru. Anda tentunya boleh berpendapat lain, dan saya minta maaf kalau anda merasa tidak nyaman dengan penyebutan itu,” tanpa tedeng aling-aling Dr. Widjajanti Dharmowijono menyampaikan sikap politiknya mengawali paparan yang ia sajikan pada audiens peluncuran novel Membongkar yang Terkubur karya Dewi Anggraeni. Pernyataan sikap ini tidak dengan mudah diambil Inge, panggilan akrab Dr. Widjajanti Dharmowijono. Ia menempuh sebuah proses panjang menelusuri jejak leluhurnya yang memakan waktu bertahun-tahun. Peluncuran Novel “Membongkar yang Terkubur”, Semarang, 7 Februari […]


Share the knowledge!
  • 81
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    81
    Shares

Dewi Anggraeni Tuturkan Liku-liku Penulisan Novel “Membongkar yang Terkubur”

Share the knowledge!
  • 360
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    360
    Shares

Karya sastra memberi keleluasaan lebih pada penulisnya untuk menyampaikan kritik sosial karena status cerita rekaan imajinatif yang disematkan padanya. Karya sastra juga bisa memasukkan rincian yang lebih menyentuh emosi pembaca ketimbang buku kajian nonfiksi, sehingga lebih punya daya untuk membangkitkan afeksi atau mendorong perubahan perilaku. Namun, sebetulnya seperti apa pergulatan batin dan proses yang dialami penulis sampai akhirnya berani menuangkan refleksi atas fakta-fakta sejarah  dalam karya sastra dan kemudian menerbitkannya? Dewi Anggraeni Fraser lahir pada 1 Juni 1945 di Jakarta, kini tinggal di Melbourne. Sejak masa remajanya Dewi aktif menulis dan mengirimkan karyanya ke berbagai media. Pertama kali Dewi terjun […]


Share the knowledge!
  • 360
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    360
    Shares

Kisah Perang Sepanjang: Menelusuri Jejak Kebersamaan Jawa-Tionghoa

Share the knowledge!

Sekilas Perang Sepanjang dan Misteri Kapitan Sepanjang Mary Somers–Heidhues dalam tinjauannya terhadap buku karangan Daradjadi Gondodiprojo Perang Sepanjang 1740-1743: Tionghoa-Jawa Lawan VOC (yang kemudian direvisi menjadi buku Geger Pacinan 1740-1743) menyebutkan ada tiga kelebihan Perang Sepanjang yang ditulis Daradjadi. Salah satu perbedaan sudut pandang yang diangkat Daradjadi menurut Somers-Heidhues adalah kemampuan militer yang cukup tinggi dari orang Tionghoa, dalam hal ini dibuktikan dengan peran penting Kapitan Sepanjang, pemimpin pasukan Tionghoa. Penekanan berbeda ini menegaskan bahwa pada satu ketika golongan Tionghoa bahu membahu bersama-sama golongan bumiputera untuk mengusir Kompeni Belanda. Jadi, mereka bukanlah “kaum oportunis yang tidak bisa diperbaiki” tetapi adalah […]


Share the knowledge!

Bedah Buku Menjerat Gus Dur: Sejarah Menemukan Jalannya Sendiri

Share the knowledge!

“Gus Dur menjadi tokoh penting dalam masa transisi setelah rezim otoriter. Meski mengendalikan pemerintah hanya 20 bulan, beliau berhasil mengembalikan marwah politik Indonesia,” tutur penulis buku Menjerat Gusdur, Virdika Rizky Utama dalam acara memperingati Haul Gus Dur ke-10. Acara ini diselenggarakan oleh Pergerakan Mahasiswa Islam  Indonesia  Universitas Negeri Semarang (PMII Unnes) di Perpustakaan Unnes pada Minggu (19/01). “Musuh terbesar Gus Dur adalah oligarki. Ia melawannya dengan mengajarkan politik tanpa kompromi. Ungkapan ini menandakan Gus Dur melawan kelompok lama yang masih ada di tubuh pemerintahan. Bukan sesuatu yang mustahil mewujudkan sila kelima. Berpolitik harus bernegara dan berkonstitusi,” lanjut Virdika dalam paparannya. […]


Share the knowledge!

Wayang Potehi 2020: Upaya Kolektif Meraup Perhatian Generasi Digital

Share the knowledge!

Satu sore di bulan Mei 2018, tim Ein Institute tiba di Museum Potehi Gudo-Jombang. Nampak seorang pria paruh baya tengah asyik memainkan pisau ukirnya, sedangkan tangan satunya memegang bongkahan kayu. Ia salah seorang perajin wayang potehi asal kota ukir Jepara yang telah lama bekerja bersama Toni Harsono pemilik museum. Yang sedang ia kerjakan di beranda museum adalah bagian kepala satu karakter wayang potehi. Toni Harsono adalah seorang pelestari budaya yang sekaligus juga seorang dalang wayang potehi. Kecintaan Toni pada potehi telah terpupuk sejak kecil. Ayah dan kakeknya berprofesi sebagai dalang wayang potehi, semasa kesenian ini berjaya di era sebelum Orde […]


Share the knowledge!