Angkringan Silaturahim: Budaya adalah Panglima dalam Membangun Perdamaian

Share the knowledge!

Semarang, Kabar EIN – Sejak Sabtu (25/3) pagi, para pemuda Katolik Ungaran terlihat sibuk menata dekorasi di halaman Gereja Kristus Raja Ungaran. Kerja-kerja ini merupakan persiapan penyelenggaraan acara “Angkringan Silaturahim: Srawung Seniman Budayawan Lintas Agama.”

Beberapa anak muda terlihat menyiapkan panggung, menggelar karpet di ruang tengah untuk tempat duduk tamu , serta menata meja-meja kecil  di sekeliling karpet sebagai tempat menghidangkan jajanan pasar. Suasana terbangun seolah-seolah di angkringan pinggir jalan, bedanya jajanan di angkringan ini tak dipungut bayaran.

Gelar kesenian yang ditampilkan cukup beragam. Ada seni Karawitan dari Candra Kirana dan tembang Geguritan dari Paramesthi, pertunjukan teater, dan tarian Sufi.

Seniman dan budayawan yang hadir mengisi acara ini juga bukan sembarangan. Hadir budayawan Ungaran Kyai Sentet, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Semarang Sarwoto Dower,  perwakilan dari Kelompok Kesenian Germo, penyair Semarang Agus Dhewa,  pengasuh Tari Sufi Semarang  Kyai Budi, serta Pemimpin Redaksi Harian Wawasan, Gunawan Permadi.

Gelaran kesenian mengalir mulus, satu demi satu pementas menampilkan karyanya. Gerakan Rakyat Miskin Perkotaan (Germo), kelompok kesenian yang fokus mengisi ruang-ruang kumuh perkotaan di pinggiran kota Semarang untuk melek kebudayaan ini menampilkan pentas teatrikal. Diiringi permainan saksofon dari Romo Aloysius Budi, personil Germo mementaskan lelakon yang mengkritik kebijakan pemerintah yang cenderung cuci tangan terhadap polemik pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng.

Filosofi Tari Sufi

Kyai Budi secara mengejutkan datang di tengah-tengah acara yang sedang berlangsung. Mampirnya Kyai Budi tentu bukan tanpa sebab, “Hal yang membuat saya tentram dan awet muda ya seperti ini, meskipun pemerintahannya agak kurang jelas tetapi rakyatnya jelas-jelas semua. Karena saya selalu menemukan acara kerukunan seperti ini di berbagai belahan bumi Nusantara,” jelas Kyai Budi menerangkan alasannya menghadiri kegiatan ini. “Bukan meniadakan keberadaan tetapi melampaui perbedaan maka lahirlah cinta di antara kita,” lanjut Kiyai Budi sebelum akhirnya ikut menari bersama dua santrinya.

Kyai yang pintar merangkai kata-kata indah tersebut menjelaskan belum banyak orang mengetahui filosofi Tari Sufi. “Kalau topi yang dikenakan ini melambangkan batu nisan,” terang Kyai Budi sambil memegangi topi khas yang berbentuk tabung memanjang dan meruncing ke arah atas. “Bukan berarti kematian jasad tetapi kematian ego. Kalau orang mau memahami cinta, harus bisa meng’kita’kan aku,” ujarnya.

“Kalau sifat dua tangan yang menyilang lurus turun ke bawah dan diletakkan di depan paha,” lanjut Kyai Budi berganti gaya, “artinya kesadaran kita tidak harus terhalang aturan hukum yang kaku, tetapi melalui kesadaran kita harus yakin bahwa ada keadilan dalam kehidupan ini.” Kyai Budi kemudian membumbui penjelasannya dengan beberapa kisah tauladan yang ada di dalam ajaran Islam.

Setelah menyilangkan tangan, gerakan Tari Sufi adalah merunduk, “Ini merupakan sifat pasrah dan ketundukan. Ini kan nilai yang ada di setiap agama, bukan hanya milik Islam. Bisa saja agama lain lebih pasrah dibanding orang yang secara formal beragama Islam,” jelas Kyai Budi.

“Kemudian tangan membentuk lambang cinta yang diletakan di antara pusar dan alat kelamin.” Kemudian tangan yang sudah membentuk hati tadi dinaikan ke depan dada, “Artinya cinta harus dinaikkan tingkatannya menuju spiritual. Wangi hidup jangan dinikmati sendiri, harus dibagi,” imbuh Kyai Budi.

Terakhir tangan kanan diangkat sebagai lambang mekarnya mawar yang menurut Kyai Budi melambangkan doa. Hal tersebut melambangakan hubungan makhluk ciptaan dengan Tuhan; melalui Tuhan maka munculah keindahan dalam bentuk seni. Terakhir sebelum pulang ke pondoknya, Kyai Budi berpesan, “Harapan saya, kita tidak terus-menerus dikurung oleh hegemoni politik dan ekonomi. Saatnya budaya menjadi panglima, kalau tidak melalui hegemoni budaya maka kita akan kesulitan menemukan perdamaian.”

Romo Budi berkomitmen bahwa sebagai Ketua Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (HAK KAS), ia akan terus menghelat acara serupa demi terwujudnya peradaban kasih.

Dalam penutupan acara, Gunawan Permadi menekankan, “Dalam kehidupan ini ada satu hal yang harus kita mengerti, yaitu misteri. Seperti pada malam ini, ada sebuah misteri.” Gunawan melempar pertanyaan, mencoba berinteraksi dengan tamu undangan,  “Misteri tersebut adalah cinta, tanpa cinta kita tidak akan tergerak untuk datang kesini. Cinta yang akan mampu menggerakan kita terus menerus untuk memahami misteri kehidupan ini.” pungkas Gunawan menandai berakhirnya acara.


Share the knowledge!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Related Post

Leave a Comment