Kisah Perang Sepanjang: Menelusuri Jejak Kebersamaan Jawa-Tionghoa

Share the knowledge!

Sekilas Perang Sepanjang dan Misteri Kapitan Sepanjang Mary Somers–Heidhues dalam tinjauannya terhadap buku karangan Daradjadi Gondodiprojo Perang Sepanjang 1740-1743: Tionghoa-Jawa Lawan VOC (yang kemudian direvisi menjadi buku Geger Pacinan 1740-1743) menyebutkan ada tiga kelebihan Perang Sepanjang yang ditulis Daradjadi. Salah satu perbedaan sudut pandang yang diangkat Daradjadi menurut Somers-Heidhues adalah kemampuan militer yang cukup tinggi dari orang Tionghoa, dalam hal ini dibuktikan dengan peran penting Kapitan Sepanjang, pemimpin pasukan Tionghoa. Penekanan berbeda ini menegaskan bahwa pada satu ketika golongan Tionghoa bahu membahu bersama-sama golongan bumiputera untuk mengusir Kompeni Belanda. Jadi, mereka bukanlah “kaum oportunis yang tidak bisa diperbaiki” tetapi adalah […]


Share the knowledge!

Wayang Potehi 2020: Upaya Kolektif Meraup Perhatian Generasi Digital

Share the knowledge!

Satu sore di bulan Mei 2018, tim Ein Institute tiba di Museum Potehi Gudo-Jombang. Nampak seorang pria paruh baya tengah asyik memainkan pisau ukirnya, sedangkan tangan satunya memegang bongkahan kayu. Ia salah seorang perajin wayang potehi asal kota ukir Jepara yang telah lama bekerja bersama Toni Harsono pemilik museum. Yang sedang ia kerjakan di beranda museum adalah bagian kepala satu karakter wayang potehi. Toni Harsono adalah seorang pelestari budaya yang sekaligus juga seorang dalang wayang potehi. Kecintaan Toni pada potehi telah terpupuk sejak kecil. Ayah dan kakeknya berprofesi sebagai dalang wayang potehi, semasa kesenian ini berjaya di era sebelum Orde […]


Share the knowledge!

Terasing di Negeri Sendiri, Jalan Panjang Penghayat Kepercayaan di Indonesia

Share the knowledge!
  • 905
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    905
    Shares

“Ayah saya digelandang ke kantor polisi, diinterogasi, kakinya diijepit kaki meja. Petugas itu menuduh ayah komunis, karena tidak memeluk suatu agama..” Demikian penuturan seorang penghayat aliran kebatinan Perjalanan (1927) di Subang, dalam mengisahkan pengalaman persekusi yang dialami keluarganya dulu. Sementara salah satu penghayat kepercayaan Medal Urip dari Brebes juga mengutarakan pengalaman yang mirip. Semasa ayahnya masih hidup, keluarga mereka mendapat perundungan dari tetangga-tetangga di lingkungan tempat tinggal.Mereka dituduh sesat. Dan ketika sang ayah meninggal dunia, mereka kesulitan mengurus pemakamannya, karena ditolak oleh warga. Dua pengalaman tersebut terungkap dalam acara Pemutaran dan Diskusi Film “Atas Nama Percaya”, yang diselenggarakan di Unika […]


Share the knowledge!
  • 905
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    905
    Shares

Lidya Apririasari, Menjembatani Komunikasi Jawa – Tionghoa di Parakan

Share the knowledge!

Sosok perempuan tinggi besar dengan rambut terurai itu mencuri perhatian penonton Kirab Menoreh Sabtu, 9 November 2019 lalu. Kirab Menoreh diadakan untuk memperingati sebuah peristiwa penting: berpindahnya ibukota Kabupaten Menoreh dari kota Parakan ke kota Temanggung. Nama perempuan itu Lydia Apririasari. Ia terlihat berbeda dari peserta kirab lainnya yang berpakaian adat Jawa; terlihat seekor ular pyton warna kuning membelit leher dan bahunya. Karena kedekatannya dengan ular itulah Lydia diberi nama julukan ‘Lydia Ulo’ (ular). Semenjak masih kuliah di Jurusan Biologi Lingkungan, Fakultas Biologi, Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta, Lydia sudah tertarik pada dunia reptilia dan amfibia (herpetologi), khususnya pada jenis […]


Share the knowledge!

Grebeg Parakan 2019: Menolak Lupa Sejarah Kota

Share the knowledge!
  • 113
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    113
    Shares

“Oh, ternyata dulu Parakan pernah menjadi ibukota kabupaten..” “Di sini to makamnya Kyai Parak yang namanya jadi cikal bakal nama Parakan..” “Wah, ternyata kita dulu pernah mempunyai seorang pendekar kungfu yang terkenal ya..” Itulah sebagian reaksi masyarakat Parakan mengenai kota kecamatan yang membawahi 17 kelurahan itu. Hal-hal tersebut terungkap dalam rangkaian acara Grebeg Parakan yang diadakan 6 – 9 November 2019 lalu. Parakan yang selama ini identik hanya dengan tembakau, bambu runcing dan rumah-rumah tua Tionghoa ternyata menyimpan sejarah yang cukup penting dalam bidang budaya dan perjuangan bangsa. “Seluruh masyarakat Kabupaten Temanggung berhutang pada kota Parakan, karena Parakan merupakan tonggak […]


Share the knowledge!
  • 113
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    113
    Shares

Cilik-cilik Cina: Potret Rasisme Kronis di Indonesia

Share the knowledge!
  • 4
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    4
    Shares

Ulasan buku Judul: “Cilik-cilik Cina, Suk Gedhe Meh Dadi Apa?: Autoetnografi Politik Identitas” Penulis: Anne Shakka, 2019, Penerbit: Sanata Dharma University Press, Jumlah Halaman: xiv +138 hlm “Aku kelelahan menjadi Cina, tapi aku tidak dapat menjadi yang lain.” (Anne Shakka, “Cilik-cilik Cina, Suk Gedhe Meh Dadi Apa?”) Berbagai bentuk kerusuhan, kekerasan dan perundungan terhadap etnis Tionghoa di Indonesia yang terjadi sejak jaman kolonial Belanda sampai dengan merdeka, menunjukkan bahwa keberadaan etnis ini di bumi Nusantara masih problematis. Ada ungkapan bernada satir, bahwa orang Tionghoa di Indonesia itu hanya punya tiga shio (lambang astrologi Cina); yaitu kelinci, sapi dan kambing. Tiga […]


Share the knowledge!
  • 4
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    4
    Shares

Wisnu Theater, Berbagi Romantisme Nonton Bioskop di Era 80-an

Share the knowledge!

Bioskop “Wisnu Theater” – biasa dilafalkan ‘biskop/biskopan’ – terletak di Jl. Bambu Runcing, Parakan. Bioskop semata wayang ini pernah menjadi sarana hiburan paling hit penyemarak lengangnya kota kecil seperti Parakan. Siapapun yang pernah tinggal di Parakan pada periode 70-80an, kemungkinan besar memiliki memori khusus tentang budaya nonton bioskop pra teknologi Studio XXI. Kini, Wisnu Theater seperti halnya gedung-gedung bioskop yang dikelola para pemodal kecil dan menengah, telah tergerus oleh zaman dan tidak lagi aktif; tempat ini kembali difungsikan sebagai gudang. Sedih sebenarnya. Walau waktu tak bisa diputar ulang, mengembalikan keriaan menonton bioskop dengan fasilitas minim, yang tidak pernah dirasakan generasi […]


Share the knowledge!

Pluralisme dalam Kue Citak, Warisan Tak Ternilai

Share the knowledge!
  • 161
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    161
    Shares

Saya ingin berbagi kisah untuk rekan-rekan yang belum sempat bergabung pada acara Parakan Heritage dan Pluralism Tour  yang kami gelar Minggu, 27 Januari lalu. Tur istimewa yang merupakan kerja bersama EIN Institute dan Yayasan Budaya Widya Mitra Semarang ini bertujuan memperkenalkan sejarah, keindahan bangunan-bangunan tua yang telah direstorasi maupun yang masih asli tanpa sentuhan perubahan berarti; serta keguyuban warga lintas etnis dan agama di Parakan. Selain menikmati bangunan-bangunan lawas serta sejarah kota Parakan, para peserta tur kami ajak menikmati kuliner khas Parakan. Ada makan siang Nasi Rames Ramidjan, yang sudah eksis selama tiga generasi dan menjadi salah satu ikon kuliner […]


Share the knowledge!
  • 161
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    161
    Shares