Bedah Buku “Beragam(a) itu Indah”: Agama Mengembangkan Akhlak dan Adab

Share the knowledge!

“Beragama saya mencintai manusia. Kalau mengkambinghitamkan ciptaanNya, berarti saya menghina Tuhan,” tutur Guru Besar Antropologi Undip, Mudjahirin Tohir dalam acara Bedah Buku “Beragam(a) Itu Indah” di Sarasehan Selasa Legén ke-97 di Kampung Budaya Universitas Negeri Semarang (Unnes), Senin (11/11) malam. Acara ini rutin diselenggarakan oleh pegiat kesenian Jawa di Universitas Negeri Semarang sejak 2014. “Cara beragama setiap orang dipengaruhi oleh tiga kemampuan untuk mewujudkan kebutuhan biologis, sosial dan sentimen kolektif,” ungkap Mudjahirin Tohir. Pria yang kini menjabat Mustasyar PWNU Jawa Tengah memaparkan  kebutuhan biologis berupa yang nampak, terdiri dari sandang, pangan dan papan. “Dalam dunia santri disebut basorih,” jelasnya. Setelah […]


Share the knowledge!

Pondok Damai: Sarana Pengobat Luka dan Pemupus Prasangka

Share the knowledge!

Merajut harmoni memupus prasangka. Membaca kalimatnya saja sudah membawa kedamaian tersendiri. Itulah tema dari kegiatan Pondok Damai yang diselenggarakan pada 27-29 April 2019. Pondok Damai diikuti 29 orang dari berbagai agama dan kepercayaan sebagai peserta juga melibatkan kurang lebih 18 panitia dari lintas agama, komunitas dan lembaga di Semarang yang tergabung dalam Persaudaraan Lintas Agama (PELITA) Semarang. Saya berkesempatan terlibat dalam kegiatan tiga hari tersebut sebagai panitia pelaksana. Pondok Damai melibatkan anak muda dari berbagai agama dan kepercayaan sebagai peserta. Peserta tidak hanya berasal dari kota Semarang saja, tetapi juga dari Salatiga, Yogyakarta, Surabaya, Lampung, bahkan ada seorang peserta yang […]


Share the knowledge!

Undhuh-Undhuh, Transformasi Tradisi Jawa Menjadi Perayaan Kristiani (3)

Share the knowledge!
  • 5
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    5
    Shares

“Bagian Tiga” Minggu Pagi, 13 Mei 2018 Acara puncak, Riyaya Undhuh-Undhuh! Akhirnya, ini hari yang saya tunggu-tunggu. Saya, Hesti dan Thay bergegas berangkat ke GKJW Mojowarno sejak matahari belum terbit. Kami sudah menyiapkan perlengkapan tempur berupa kamera foto, kamera video, dan tentu saja cemilan untuk mengganjal perut karena kami tidak akan sempat sarapan di penginapan. Tepat pukul 05.30 WIB jalan raya di depan gereja ditutup untuk mempersiapkan kedatangan  7 rombongan kendaraan hias yang berasal dari berbagai blok seputar Mojowarno. Saya, Hesti dan Thay sudah mengincar beberapa posisi terbaik untuk mendapatkan gambar. Thay menempatkan diri di luar halaman gereja, sementara saya […]


Share the knowledge!
  • 5
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    5
    Shares

Undhuh-Undhuh, Transformasi Tradisi Jawa Menjadi Perayaan Kristiani (2)

Share the knowledge!

“Bagian Dua” Di akhir wawancara Pdt. Wimbo bercerita, salah satu bagian persiapan Riyaya Undhuh-Undhuh yang paling menyita waktu adalah proses menghias mobil. Warga dari masing-masing blok peserta riyaya sudah akan memulai persiapan berminggu-minggu sebelumnya. Dari menentukan tema cerita Alkitab yang akan ditampilkan dalam mobil hias, bergotong royong merangkai padi ketan yang menjadi aksesoris utama mobil hias, menggarap kerangka patung-patung hias, hingga pada hari menjelang puncak acara, hasil panen dikumpulkan untuk diarak dan dilelang di halaman gereja. Menata Kendaraan Hias Jelang Undhuh-Undhuh Diantar oleh salah satu warga, Tim EIN Institute bergeser menyambangi salah satu dusun, yang lebih populer dinamai berdasarkan blok; […]


Share the knowledge!

Undhuh-Undhuh, Transformasi Tradisi Jawa Menjadi Perayaan Kristiani (1)

Share the knowledge!

Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mojowarno menarik perhatian saya sejak setahun lalu. Berawal ketika saya menemukan sebuah artikel di majalah pariwisata terbitan 2013 tentang Riyaya Undhuh-Undhuh; sebuah perayaan ucapan syukur pasca panen yang digelar tahunan oleh gereja tersebut.


Share the knowledge!

Tedi Kholiludin: Siapa Saja Bisa Terjerat Pasal Penodaan Agama

Share the knowledge!

Semarang, EIN Institute – Di balik patung Warak yang menjulang di Taman Pandanaran Semarang, hampir 100 orang datang berkumpul pada Selasa (28/8) malam lalu. Setelah saling menyapa akrab, mereka langsung mencari tempat duduk masing-masing di ruang publik berbentuk teater itu. Sehelai spanduk dengan tulisan Pelita Untuk Meiliana: Keprihatinan Pasal Penodaan Agama, dibentangkan dekat kanopi


Share the knowledge!

Mengenal Kepercayaan Lokal Ugamo Malim di Hari Toleransi Sedunia

Share the knowledge!
  • 27
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    27
    Shares

Semarang, Kabar EIN– Bertepatan dengan Hari Toleransi Sedunia, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Agama Komisariat Wahid Hasyim bekerjasama dengan Forum Komunikasi Umat Beragama Jawa Tengah (FKUB Jateng) dan Segi Film mengadakan acara “Refleksi Hari Pahlawan dan Hari Toleransi Sedunia”  yang bertempat di Aula Gedung C Lantai 3 Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, Kamis (16/11). Harmoni dalam Perbedaan Dalam sesi pembukaan, Sekretaris Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (MATAKIN) Jawa Tengah  Andi  Gunawan menyampaikan refleksinya. Andi berpendapat, untuk menjadi pahlawan di zaman sekarang cukuplah sederhana, yaitu melakukan yang terbaik. “Yang jadi mahasiswa, ya jadi mahasiswa yang baik. Yang jadi sesepuh, ya […]


Share the knowledge!
  • 27
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    27
    Shares

Memahami Berbagai Kepentingan di Balik Praktik Penghancuran Patung

Share the knowledge!
  • 8
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    8
    Shares

Persaudaraan Lintas Agama (PELITA) dan beberapa komunitas lain di Semarang, di antaranya  EIN Institute, Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang, Institute of Peace and Security Studies (IPSS), dan Gusdurian Semarang; menggelar diskusi bertajuk “Patung: Antara Seni, Budaya, dan Agama”. Diskusi bertempat di Jalan Ayodyapala No. 44 Semarang. Selasa malam (22/08). Ide membuka ruang dialog berangkat dari wacana perobohan Patung Kwan Kong di Tuban, serta kejadian-kejadian perobohan berbagai patung di berbagai wilayah Indonesia akhir-akhir ini. Wacana perobohan patung Kwan Kong memicu pro kontra di media, situasi menjadi cukup panas. Pendirian patung Kwan Kong dianggap sementara pihak sebagai representasi dominasi negara […]


Share the knowledge!
  • 8
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    8
    Shares

Harlah Gus Dur, Menjadi Juru Damai adalah Kewajiban Komunal

Share the knowledge!
  • 19
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    19
    Shares

Semarang, EIN Institute– Bulan bulat menemani langit cerah di halaman belakang Klub Merby Jl. MT Haryono Semarang pada Minggu malam (6/8). Terlihat sekelompok orang bernyanyi bersama. Lagu yang mereka lantunkan, Indonesia Tanah Air Beta; dibawakan oleh Grup Musik Bohemian berkolaborasi dengan Romo Aloysius Budi Purnomo yang tak lepas meniup saksofon kesayangannya. Acara bertema Merawat Kebangsaan Melindungi Keragaman tersebut digelar untuk memperingati hari kelahiran ke-77  KH. Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan panggilan Gus Dur. Inisiator peringatan adalah Jaringan Gusdurian Semarang yang bekerjasama dengan berbagai komunitas di Semarang; Persaudaraan Lintas Agama (Pelita), Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA ), Pergerakan Mahasiswa […]


Share the knowledge!
  • 19
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    19
    Shares

Satu Tungku Tiga Batu: Filosofi Fakfak yang Melampaui Toleransi

Share the knowledge!
  • 996
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    996
    Shares

Roy adalah seorang pemuda Fakfak yang beragama Kristen dan tercatat sebagai mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi Fakfak, Papua Barat. Uniknya, dia menjadi Kristen karena menuruti permintaan ayahnya, seorang muslim yang saleh. Alasannya, sebelum menjadi muslim, ayahnya itu beragama Kristen. Menurut adat Fakfak, perpindahan agama entah dari Islam ke Kristen atau Kristen ke Islam harus ditukar oleh keturunannya, agar terjadi keseimbangan agama dalam riwayat keluarga. Kisah Roy dituturkan antropolog Ronald Helwedery dalam diskusi Satu Tungku Tiga Batu: Model Keberagaman dan Rekonsiliasi Fakfak hari Jumat (28/7) yang diselenggarakan oleh Institute of Peace and Security Studies (IPSS) dengan dukungan Lembaga Studi Sosial dan Agama […]


Share the knowledge!
  • 996
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    996
    Shares