Kisah Perang Sepanjang: Menelusuri Jejak Kebersamaan Jawa-Tionghoa

Share the knowledge!
  • 161
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    161
    Shares

Sekilas Perang Sepanjang dan Misteri Kapitan Sepanjang Mary Somers–Heidhues dalam tinjauannya terhadap buku karangan Daradjadi Gondodiprojo Perang Sepanjang 1740-1743: Tionghoa-Jawa Lawan VOC (yang kemudian direvisi menjadi buku Geger Pacinan 1740-1743) menyebutkan ada tiga kelebihan Perang Sepanjang yang ditulis Daradjadi. Salah satu perbedaan sudut pandang yang diangkat Daradjadi menurut Somers-Heidhues adalah kemampuan militer yang cukup tinggi dari orang Tionghoa, dalam hal ini dibuktikan dengan peran penting Kapitan Sepanjang, pemimpin pasukan Tionghoa. Penekanan berbeda ini menegaskan bahwa pada satu ketika golongan Tionghoa bahu membahu bersama-sama golongan bumiputera untuk mengusir Kompeni Belanda. Jadi, mereka bukanlah “kaum oportunis yang tidak bisa diperbaiki” tetapi adalah […]


Share the knowledge!
  • 161
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    161
    Shares

Wayang Potehi 2020: Upaya Kolektif Meraup Perhatian Generasi Digital

Share the knowledge!
  • 128
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    128
    Shares

Satu sore di bulan Mei 2018, tim Ein Institute tiba di Museum Potehi Gudo-Jombang. Nampak seorang pria paruh baya tengah asyik memainkan pisau ukirnya, sedangkan tangan satunya memegang bongkahan kayu. Ia salah seorang perajin wayang potehi asal kota ukir Jepara yang telah lama bekerja bersama Toni Harsono pemilik museum. Yang sedang ia kerjakan di beranda museum adalah bagian kepala satu karakter wayang potehi. Toni Harsono adalah seorang pelestari budaya yang sekaligus juga seorang dalang wayang potehi. Kecintaan Toni pada potehi telah terpupuk sejak kecil. Ayah dan kakeknya berprofesi sebagai dalang wayang potehi, semasa kesenian ini berjaya di era sebelum Orde […]


Share the knowledge!
  • 128
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    128
    Shares

Terasing di Negeri Sendiri, Jalan Panjang Penghayat Kepercayaan di Indonesia

Share the knowledge!
  • 190
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    190
    Shares

“Ayah saya digelandang ke kantor polisi, diinterogasi, kakinya diijepit kaki meja. Petugas itu menuduh ayah komunis, karena tidak memeluk suatu agama..” Demikian penuturan seorang penghayat aliran kebatinan Perjalanan (1927) di Subang, dalam mengisahkan pengalaman persekusi yang dialami keluarganya dulu. Sementara salah satu penghayat kepercayaan Medal Urip dari Brebes juga mengutarakan pengalaman yang mirip. Semasa ayahnya masih hidup, keluarga mereka mendapat perundungan dari tetangga-tetangga di lingkungan tempat tinggal.Mereka dituduh sesat. Dan ketika sang ayah meninggal dunia, mereka kesulitan mengurus pemakamannya, karena ditolak oleh warga. Dua pengalaman tersebut terungkap dalam acara Pemutaran dan Diskusi Film “Atas Nama Percaya”, yang diselenggarakan di Unika […]


Share the knowledge!
  • 190
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    190
    Shares

Dialog HAM, Penyampaian Fakta Sejarah Lisan Lintas Generasi

Share the knowledge!
  • 40
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    40
    Shares

“Saya ini seolah-olah bertambah umurnya mendengar anak-anak muda ini bercerita bahwa kejadian 1965 itu perbuatan pelanggaran HAM. Saya ini sudah berusia 76 tahun, seakan tinggal berapa hari lagi hidup, tapi seolah bertambah umur, sebab saya mempunyai harapan ada penyambung saya, generasi muda yang bahasa sekarang adalah generasi milenial ini masih sadar tentang ketidakadilan yang terjadi” ungkap Munari salah satu penyintas tragedi 1965 yang hadir dalam acara Dialog Antar Generasi, Melepas Belenggu Impunitas. Sebagai salah satu rangkaian peringatan hari HAM Internasional yang diselenggarakan bersama Asia Justice and Rights (AJAR) dan  Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI) pada Kamis, 5 Desember 2019. […]


Share the knowledge!
  • 40
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    40
    Shares

Bedah Buku “Beragam(a) itu Indah”: Agama Mengembangkan Akhlak dan Adab

Share the knowledge!

“Beragama saya mencintai manusia. Kalau mengkambinghitamkan ciptaanNya, berarti saya menghina Tuhan,” tutur Guru Besar Antropologi Undip, Mudjahirin Tohir dalam acara Bedah Buku “Beragam(a) Itu Indah” di Sarasehan Selasa Legén ke-97 di Kampung Budaya Universitas Negeri Semarang (Unnes), Senin (11/11) malam. Acara ini rutin diselenggarakan oleh pegiat kesenian Jawa di Universitas Negeri Semarang sejak 2014. “Cara beragama setiap orang dipengaruhi oleh tiga kemampuan untuk mewujudkan kebutuhan biologis, sosial dan sentimen kolektif,” ungkap Mudjahirin Tohir. Pria yang kini menjabat Mustasyar PWNU Jawa Tengah memaparkan  kebutuhan biologis berupa yang nampak, terdiri dari sandang, pangan dan papan. “Dalam dunia santri disebut basorih,” jelasnya. Setelah […]


Share the knowledge!