Weslly Johannes, Penyintas Konflik Ambon yang Bertekad Memutus Kebencian

Share the knowledge!
  • 883
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    883
    Shares

Ketika kerusuhan meletus pertama kali di Ambon bulan Januari 1999, Pulau Buru belum langsung terkena dampaknya. Meskipun demikian, rumor menyebar luas dengan cepat, membuat ketakutan warga Kristen yang tinggal di pulau yang mayoritasnya Islam itu, termasuk keluarga Weslly Johannes. “Hampir setahun kemudian, bulan Desember, saya dibangunkan ayah dan disuruh siap-siap mengungsi ke Ambon,” kenang Weslly yang kini aktif di Paparisa Ambon Bergerak, saat menjadi pemantik diskusi di pemutaran film “Beta Mau Jumpa” hari Jumat (28/2) lalu di Gedung Teater Thomas Aquinas Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata. Teror yang dia saksikan dan dengar membuat emosinya bergejolak. “Waktu itu saya benci pada ‘Islam’ […]


Share the knowledge!
  • 883
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    883
    Shares

Beta Mau Jumpa: Pergulatan Memutus Narasi Kebencian di Ambon

Share the knowledge!

Lampu diredupkan dan film pun mulai diputar. Warna-warni lantunan pujian di gereja dan orang shalat di masjid muncul silih berganti dengan cuplikan hitam putih adegan warga menggotong mayat atau membidikkan senapan, truk-truk militer yang hilir mudik di jalanan kota, anak-anak dan warga lansia yang lesu di lokasi pengungsian. Lalu suara narator muncul, berkisah tentang insiden tanggal 19 Januari 1999. Di terminal Batu Merah, terjadi cekcok soal uang setoran antara supir angkot dan preman yang berujung perkelahian. Sepertinya sepele, tapi ternyata ribut kecil itu dengan cepat meluas jadi konflik berdarah ke seluruh Ambon. Dalam tiga tahun, setidaknya 5000 orang tewas. Untuk […]


Share the knowledge!

Terasing di Negeri Sendiri, Jalan Panjang Penghayat Kepercayaan di Indonesia

Share the knowledge!
  • 936
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    936
    Shares

“Ayah saya digelandang ke kantor polisi, diinterogasi, kakinya diijepit kaki meja. Petugas itu menuduh ayah komunis, karena tidak memeluk suatu agama..” Demikian penuturan seorang penghayat aliran kebatinan Perjalanan (1927) di Subang, dalam mengisahkan pengalaman persekusi yang dialami keluarganya dulu. Sementara salah satu penghayat kepercayaan Medal Urip dari Brebes juga mengutarakan pengalaman yang mirip. Semasa ayahnya masih hidup, keluarga mereka mendapat perundungan dari tetangga-tetangga di lingkungan tempat tinggal.Mereka dituduh sesat. Dan ketika sang ayah meninggal dunia, mereka kesulitan mengurus pemakamannya, karena ditolak oleh warga. Dua pengalaman tersebut terungkap dalam acara Pemutaran dan Diskusi Film “Atas Nama Percaya”, yang diselenggarakan di Unika […]


Share the knowledge!
  • 936
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    936
    Shares