Share the knowledge!

Semarang, Kabar EIN – Dewan Perwakilan Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Semarang menggelar halal bi halal  disertai dengan Dialog Keagamaan. Acara diselenggarakan di Kresna Meeting Room Hotel Siliwangi, Semarang, pada Minggu (8/7).

Dialog yang mengambil tema “Keragaman Dalam Bingkai Kebhinekaan” tersebut mendatangkan Pendiri Asosiasi Pendeta Indonesia, Pendeta Tjahyadi Nugroho, Brigjen N. Sulistiyo Budi serta Iman Fadilah, ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Generasi Muda (FKUB-GM) Kota Semarang.

Ketua DPR Kota Semarang, Supriyadi,  dalam sambutan pembukaan berpesan agar anak muda berperan aktif dalam menjaga kesatuan bangsa. Senada dengan Supriyadi, Sulistiyo Budi juga menyampaikan hal serupa, “Bayangkan, kalau dulu ada pihak luar yang ingin menanamkan sebuah ideologi tertentu harus mengirim mata-mata, melakukan spionase, sementara sekarang hal itu tidak perlu,” ucap jenderal bintang satu tersebut dengan bersemangat. “Tapi ingat, ideologi transnasional tersebut bisa masuk lebih mudah melalui sosial media,” tambahnya meminta anak-anak muda untuk waspada.

Pesan Sulistiyo Budi pada calon mahasiswa baru yang akan masuk perguruan tinggi adalah agar selektif memilah organisasi tempat bergabung. “Harus hati-hati, teliti dulu organisasinya, tetapi kalau jiwa kita sudah jiwa nasionalis, itu adalah tameng terbaik,” ujarnya.

Toleransi itu Harus Bertahap

Sementara Iman Fadilah berpesan agar dalam menjalani hubungan antar agama harus melalui beberapa tahapan, “tahap pertama kita harus mengetahui fakta keberagaman yang ada, selanjutnya kita harus memahami keberagaman tersebut, ketiga kita baru bisa berinteraksi dengan keberagaman tersebut.” Iman menyayangkan fenomena terkini, yakni meningkatnya rasa saling curiga karena perbedaan agama dan etnis.

Iman berpendapat, konflik di tengah masyarakat terjadi karena kurangnya pemahaman bahwa keberagaman adalah kodrat masyarakat Indonesia. Masalah terjadi ketika masing-masing individu berinteraksi di masyarakat tanpa pemahaman keberagaman.

“Bagaimanapun, keluarga adalah tempat utama untuk mengajarkan anak-anak kita untuk mengenal toleransi. Jika sejak dalam keluarga sudah diajarkan dengan baik bahwa masyarakat Indonesia beragam, saya yakin kalau saat tumbuh besar anak tersebut punya pemahaman toleransi yang bagus.” ujar Dosen Universitas Wahid Hasyim tersebut mengakhiri paparannya.

Kejujuran Adalah Bahasa Universal Agama

Tren politik Indonesia yang masih sering menggunakan isu primordialisme sering berujung pada konflik SARA. Berbagai kelompok saling menamakan diri sebagai pembela Pancasila, semua itu akhirnya mengganggu kestabilan negara akhir-akhir ini.

Pendeta Tjahyadi Nugroho menyoroti hal tersebut dengan mengajak peserta dialog merenungkan apa tugas pokok agama sebenarnya. “Agama ini kan sebenarnya bersifat spiritual, harusnya membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik, kalau saudara-saudara muslim menyebutnya rahmatan lil alamin,” ungkapnya.

Menurut Tjahjadi, solusi konflik horisontal yang disebabkan konflik agama adalah ketika semua agama menggunakan bahasa spiritual, yaitu bahasa kejujuran. “Bahasa kejujuran dalam setiap dakwah keagamaan haruslah dikembangkan mulai sekarang,” ungkap  pendiri EIN Institute ini disambut tepuk tangan peserta dialog.

Facebook Comments

Share the knowledge!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *