Museum Orang Cina di Amerika, Upaya Kolektif Melawan Rasisme

Share the knowledge!

Charles Lai dan John Kuo Wei Tchen memunguti memorabilia dari tong-tong sampah kawasan pecinan di New York pada tahun 1980. Mereka tak pernah menduga bahwa 30 tahun kemudian, upaya mereka akan menjelma jadi The Museum of Chinese in America (MOCA) nan prestisius. Menempati bangunan elegan rancangan arsitek tenar Maya Lin yang juga merancang Vietnam Veteran Memorial, per bulan MOCA dikunjungi hampir 4000 orang yang ingin tahu tentang kiprah orang-orang Cina dan keturunannya di Amerika.

Saya berkunjung ke MOCA pada Sabtu siang yang sejuk bersama sejumlah kawan dari berbagai negara. Ada Stephanie dan Eric dari Amerika, Norbi dari Rumania, serta suami istri Rupaia dan Dipty dari India. Dari pemberhentian bis  Centre St./Broome St., kami tinggal jalan kaki sekitar 1 menit untuk mencapainya. Eric yang berperan sebagai pemandu bilang, kami sudah mulai memasuki kawasan pecinan Manhattan – sesuatu yang tak saya sadari, karena gaya bangunan di sekitar tampak sama saja dengan bagian New York lainnya: tinggi-tinggi dan kotak-kotak. Namun setelah saya cermati, memang tampak beberapa toko memasang plang beraksara Cina. Juga ada seperti hiasan lampion merah dipasang tinggi di beberapa tiang jalan.

Hampir saja saya jalan terus andai Rupaia tidak memanggil dan memberi isyarat untuk mengikutinya belok kiri, masuk ke balik dua lapis pintu kaca, menyusul rombongan yang sudah lebih dulu masuk. Saya tak menduga telah sampai, karena semula benak saya memang punya ekspektasi akan menemukan bangunan yang “Cina banget” seperti Museum Benteng Heritage di Tangerang atau Museum Hakka di Taman Mini Indonesia Indah. Ternyata tampak luar museum ini bergaya sangat modern-minimalis, garis-garis tegas, jendela-jendela kaca lebar, dan pilihan jenis huruf M-O-C-A  yang tidak ada nuansa Cinanya sama sekali.

Kami disambut oleh meja resepsionis merangkap kasir dan ruang lobi yang sekaligus difungsikan sebagai toko cenderamata. Jualannya mulai dari notes, kartu pos, stiker, buku, baju bayi, sampai salinan foto kuno. Saya tertawa melihat kaos dengan tulisan “Keep Calm and 吃饭 (makan nasi)”! Harga tiket masuk per orang USD 10. Ada diskon separuh harga bagi anak-anak, pelajar, dan manula. Kita juga bisa mendaftar jadi anggota museum untuk mendapatkan berbagai fasilitas khusus dengan iuran mulai dari USD 25 per tahun.

 

Mengayunkan Langkah Pertama

Grayson Chin – The Museum of Chinese in America. Photo: Ellen Nugroho

“Ini gedung baru, kami baru pindah kemari tahun 2009,” terang Grayson Chin, pemuda berbadan tegap yang menjadi manajer layanan pengunjung MOCA. Sementara kawan-kawan lain langsung menjelajahi ruang demi ruang pameran, saya mendekatinya di meja resepsionis, memperkenalkan diri dan lembaga saya. Grayson sangat antusias ketika mengetahui EIN Institute juga melakukan kerja-kerja promosi relasi damai antar etnis dalam upaya membongkar stereotip rasis. Melawan rasisme dengan menggerakkan komunitas adalah raison d’être (tujuan utama) MOCA. Warga peranakan di Amerika telah mengalami sejarah panjang diskriminasi berbasis ras dan MOCA ingin menggugah orang-orang untuk melucuti rasisme itu lewat pameran dokumentasi historis dan fakta-fakta.

Bersama Grayson, saya memasuki segmen pertama eksibisi yang akan dipamerkan sampai tahun 2020, bertajuk “With a Single Step: Stories in the Making of America”. Foto-foto, karya lukis, artefak menceritakan kedatangan orang Cina ke Amerika sekitar 200-250 tahun lampau – jauh lebih belakangan kalau dibandingkan ribuan tahun riwayat orang Cina di Nusantara. Awalnya hanya beberapa pelaut yang berpetualang. Baru tahun 1850-an, gelombang imigran dari Cina datang ke California untuk ikut menambang emas. Kemudian tahun 1860-an, imigran Cina banyak direkrut sebagai buruh untuk membangun jalur-jalur kereta api transkontinental.

Pekerja Cina sangat disukai para pemilik perusahaan karena mereka mau bekerja keras dengan bayaran yang murah. Kebanyakan yang datang juga adalah laki-laki dewasa. Masih muda serta sehat, merantau tanpa mengajak keluarga, mereka dirasa tidak terlalu membebani pemerintah daerah setempat, karena relatif tidak terlalu butuh layanan sekolah atau rumah sakit.

 

Rasisme yang Dilembagakan 

Di segmen berikutnya, pengunjung diajak melihat propaganda rasis yang dialami orang Cina di Amerika. Ada selebaran-selebaran rapat umum yang menggalang sentimen anti-Cina. Berbagai karikatur dan meme menggambarkan orang Cina sebagai pribadi culas, licik, dan rakus. Para pekerja tambang kulit putih merasa tersaingi oleh imigran Cina. Mereka lalu mendesak para legislator negara bagian dan serikat pekerja untuk membuat kebijakan-kebijakan yang menyingkirkan imigran Cina dari dunia tambang. Terisolir di kantong-kantong pemukiman pecinan, orang Cina hanya bisa menjadi buruh kasar, dengan pekerjaan utama buka warung dan binatu.

Ada kliping koran New York yang didapati menyebar hoaks – katanya, “orang Cina mau dibayar setengah dari gaji normal karena mereka cuma makan seekor tikus setiap hari dan menganggap tikus itu hidangan lezat”. Tokoh buruh Denis Kearney (1847-1907) secara militan mengobarkan kebencian pada orang Cina dengan menjuluki mereka “si kusta bermata sipit”. Tuduhan bahwa “orang Cina itu komunis” juga menyebar luas. Gerakan anti-Cina terus meningkat sampai akhirnya muncullah Undang-Undang Naturalisasi tahun 1870 yang melarang orang keturunan Cina menjadi warga negara Amerika.

Klimaks gerakan anti-Cina adalah dikeluarkannya Chinese Exclusion Act tahun 1882 yang sama sekali melarang orang asal Cina masuk ke Amerika. Sebelum itu, Amerika sebetulnya menerapkan kebijakan pintu terbuka, menyambut imigran dari mana saja kecuali “pelacur, penderita kusta, dan orang idiot”. Undang-undang ini memasukkan orang Cina sebagai kategori keempat – menjadi aturan federal pertama yang melarang imigrasi berbasis asal-usul kebangsaan seseorang.  Dampaknya tentu saja dilema bagi bagi para pekerja Cina: mereka mau tetap bekerja di negeri ini tapi harus hidup sendiri karena keluarga tak mungkin datang menyusul ke Amerika, atau pulang ke Cina untuk bersatu lagi dengan keluarga di kampung halaman.

 

Sejarah dalam Tong Sampah

Koleksi MOCA dimulai ketika Charles Lai melihat tong-tong sampah di kawasan pecinan penuh dengan barang-barang bersejarah. Sandal-sandal sulam khas Cina, foto-foto keluarga, surat-surat antara pekerja Cina dengan istrinya di kampung, plang-plang kuno, semua dikeluarkan dari gudang berbagai apartemen dan dicampakkan begitu saja di jalanan. Para pemiliknya telah tua atau mati. Meskipun Chinese Exclusion Act sudah dicabut total sejak diundangkannya Immigration Act 1965, banyak pekerja Cina tua yang mengakhiri hidup mereka dalam kesendirian tanpa keluarga. Kini tempat tinggal mereka diambil alih oleh generasi yang tak tahu betapa banyak memori tersimpan dalam benda-benda itu.

“Charlie Lai dan John Tchen merasa sayang sekali kalau peninggalan bersejarah itu hilang terbuang, tidak didokumentasikan,” kata Grayson. Mereka berdua lantas mulai mengoreki tong-tong sampah, membawa pulang berbagai memorabilia. Tchen sampai susah payah menggotong plang toko Binatu Cina yang sangat besar untuk ia simpan di gudang rumahnya. Kadang kala mereka malah diusir karena dianggap pemulung oleh penghuni rumah empunya tong sampah.

Lai termasuk kelompok orang Cina yang pindah ke Amerika pasca Immigration Act. Dia datang dari Hongkong bersama orangtua dan lima saudara tahun 1968, dan bermukim di kawasan pecinan. Sementara itu, Tchen adalah sejarawan, lahir di Amerika sebagai keturunan imigran Cina. Keduanya pertama kali bertemu di lokakarya seni berbasis komunitas. Sama-sama menyukai pedagogi radikal Paulo Freire, mereka banyak berdiskusi tentang cara menggunakan sejarah untuk menciptakan perubahan sosial. Menurut mereka, sejarah seharusnya jangan hanya berfokus pada golongan kaya dan terhormat, tetapi juga mengangkat kehidupan riil sehari-hari rakyat kecil.

Lai dan Tchen merasa harus melakukan sesuatu untuk merawat ingatan sekaligus membangkitkan kesadaran komunitas pecinan serta masyarakat luas bahwa orang Cina juga punya kontribusi dalam sejarah Amerika. Terinspirasi oleh temuan artefak yang makin menumpuk, mereka menggagas Proyek Sejarah Pecinan New York di tahun 1980. Tujuan awalnya sederhana saja: mendokumentasikan kehidupan warga keturunan Cina di kota New York.

 

Setelah Seribu Li

The Museum of Chinese in America. Photo: Ellen Nugroho

Pameran pertama proyek Lai dan Tchen diberi judul Eight Pound Livelihood, mengangkat seluk-beluk kehidupan usaha binatu Cina. Proses persiapannya sulit karena banyak pelaku bisnis cuci-mencuci ini tak mau memberi informasi. Namun Lai bisa memahami. Ia sadar betul orang-orang ini sudah lama menjadi korban diskriminasi, sering dituduh komunis. Status mereka mungkin juga masih imigran gelap. Tak heran mereka curiga dan menutup diri ketika diminta bercerita.

Lai dan Tchen sengaja memilih tempat pameran pertama mereka bukan di gedung megah, tapi di pusat kegiatan para manula. Ternyata sambutannya antusias. Para warga senior itu merasa terharu melihat pameran yang mencerminkan hidup mereka, yang mereka sebut “isinya darah dan air mata”. Sejak itu, Lai dan Tchen makin mendapat kepercayaan dari komunitas pecinan. Orang mulai datang menyerahkan barang-barang kenangan mereka untuk menambah isi pameran. Untuk menampung koleksi yang makin banyak ini, mereka lalu menyewa eks bangunan sekolah di jantung kawasan pecinan New York.

Untuk menarik makin banyak pendukung dan donatur, nama Proyek Pecinan New York dengan Museum Sejarah Pecinan. Lai dan Tchen merekrut staf dan relawan, serta menyelenggarakan berbagai pameran dan program publik yang makin bervariasi. Ruang lingkup tema pameran mereka makin luas, tidak melulu soal kawasan pecinan, sehingga akhirnya tahun 2006, dipilih nama baru yang lebih representatif dan dipakai hingga kini: The Museum of Chinese in America. Mengapa memakai istilah ‘Chinese in America’ dan bukan ‘Chinese American’? “Karena istilah yang pertama itu lebih inklusif, bisa untuk yang lahir di Amerika atau bukan, sementara istilah kedua hanya untuk orang keturunan Cina yang lahir di Amerika,” jelas Grayson.

Saat ini MOCA telah mengumpulkan lebih dari 10.000 catatan wawancara dan 65.000 artefak, foto, memorabilia, dokumen, hasil wawancara, dan karya seni – sebanyak 30.000 di antaranya telah didigitalisasi. Sepanjang tahun 2017, museum ini melayani 45.000 pengunjung umum dan 20.000 siswa sekolah. Majalah Condé Nast Traveller menobatkan MOCA sebagai satu dari 10 museum terbaik di New York. Lewat dukungan banyak donatur dan sekitar 2500 anggota museum serta pemerintah, anggaran tahunan MOCA mencapai 3 juta dollar Amerika. Mengunjungi website-nya (mocanyc.org), kita akan kagum melihat betapa beragam program MOCA dan luasnya segmen masyarakat yang dicakup – mulai dari anak-anak sampai manula, dari komunitas lokal pecinan sampai turis mancanegara.

 

Antara Memori dan Mimpi

Diiringi alunan rekaman suara perempuan yang ibarat penyiar radio menceritakan sejarah kiprah orang Cina di Amerika, saya melanjutkan langkah ke segmen berikutnya. Ada foto-foto jasa binatu masa lampau, plang besar “Chinese Laundry” yang dulu diselamatkan Tchen dari tong sampah, juga alat seterika besi berbagai ukuran dan satu mesin cuci kuno di tengah ruangan. Sepertinya ini adalah cuplikan dari proyek Eight Pound Livelihood, pameran pertama Lai dan Tchen tahun 1980.

Segmen berikutnya khusus memamerkan koleksi berbagai poster film yang dibintangi oleh orang Amerika keturunan Cina. Dari berbagai poster itu tampak ada benang merah stereotip tentang orang Cina: yang laki-laki berwajah culas, yang perempuan seksi menggoda. Tampak mencolok poster The Bride of Fu Manchu, karena ukurannya paling besar, yang mengangkat karakter fiktif karangan novelis Inggris Sax Rohmer yang sangat populer: Dokter Fu-Manchu, si penjahat jenius berhati setan, tinggi kurus, dengan kumis panjang di kedua ujung bibirnya.

Masih ada banyak lagi segmen berikutnya: kenangan tentang berbagai komunitas Cina yang berkembang di Amerika, kumpulan kisah figur-figur orang Cina-Amerika yang berprestasi atau berjasa bagi negeri, lemari-lemari penuh dengan ragam obat tradisional Cina dan perabot keramik kuno. Tapi saya paling tersentuh oleh satu dinding yang penuh ditempeli berbagai surat pribadi para warga peranakan Amerika, membuat kita bisa membayangkan isi hati mereka saat itu.

Sayangnya saya tak bisa lama-lama berkeliling MOCA, harus bergegas keluar menyusun kawan-kawan yang telah selesai dari tadi. Bagi mereka museum itu cukup menarik – “Di sini ada banyak hal yang tidak diajarkan di sekolah,” kata Stephanie – tapi sepertinya tidak setergugah saya. Terus terang mengitari MOCA ini, benak saya terus-menerus melayang ke kampung halaman. Teringat pada para encik dan encim tua di pecinan Semarang, yang satu per satu telah dan akan meninggalkan dunia. Betapa banyaknya cerita yang akan pergi bersama mereka – tentang era Belanda, era Jepang, era Sukarno, era Suharto, era Reformasi. Adakah jalan untuk menyimpan memori nan berharga itu? Dan apakah anak-anak mereka kelak juga akan menyingkirkan memorabilia para sesepuh itu ke tong sampah seperti di New York? Ah, semoga tidak!

Saya keluar dari MOCA dengan satu pertanyaan terus mendengung dalam diri: Kapan museum seperti ini bisa ada di kota kelahiran saya, kalau bisa di jantung kawasan pecinannya?


Share the knowledge!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Related Post

Leave a Comment