Pemenang Beasiswa

Lasem Pluralism Trail (12 – 15 Oktober 2017)

Antonio Winatian

Antonio Winatian (21) menganggap dilahirkan di keluarga beretnis Tionghoa merupakan roda takdirnya. Kakek Antonio adalah warga negara RRC yang berlayar ke Indonesia untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Beliau tiba di Siborong-borong Sumatera Utara, kemudian menikahi seorang perempuan Tionghoa peranakan. Suami istri ini pindah ke Pelabuhan Belawan membuka usaha rumah makan. Usaha mereka cukup sukses.

Antonio lahir di Medan untuk kemudian kembali ke Belawan melewatkan masa tumbuh kembang. Sepanjang ingatan Antonio dan berdasarkan foto-foto masa kecilnya, Antonio menyadari, ia tidak pernah keluar rumah. Semua foto-foto diambil dengan latar belakang di dalam rumah.

Ketika duduk di bangku SMP, Antonio menanyakan kejanggalan ini pada orang tuanya. Jawaban mereka singkat,” Di luar sana banyak huana—(sebutan etnis Tionghua kepada warga “pribumi” di Medan). Bila banyak berbaur dengan mereka nanti kamu jadi orang jahat. “

Sejak saat itu Antonio kecil menganggap bahwa bermain, berteman, dan berbaur dengan para huana bukanlah hal yang baik untuknya. Semenjak kecil, teman-teman Antonio hanyalah anak-anak dari etnis Tionghoa. Antonio dan kawan-kawannya yang beretnis Tionghoa hanya diperbolehkan bermain di dalam ruangan; tempat yang dianggap orang tua mereka sebagai tempat yang aman dari pengaruh anak-anak huana.

Hingga ketika Antonio pindah ke Medan untuk menempuh pendidikan SMA, ia selalu berprasangka buruk pada orang-orang non-Tionghoa. Antonio benar-benar merasa bahwa huana adalah orang-orang yang jahat, kurang berpendidikan dan berbahaya. Di sisi lain, faktanya keluarga Antonio kerap mengalami pemerasan yang dilakukan oleh warga “pribumi” Medan, baik di jalan maupun didatangi ke rumah.

Rasa tertekan dan ketidaksukaan pada perilaku warga “pribumi” Medan mendorong Antonio untuk mencari lingkungan baru.

Pada 2014, Antonio memutuskan merantau ke Bandung dan menempuh pendidikan sastra Inggris di Universitas Pendidikan Indonesia. Awalnya, Antonio merasa masyarakat Bandung lebih mengakomodasi perbedaan, dibanding lingkungan lamanya di Medan.

Sayangnya, pasca konflik Pilkada DKI yang baru lalu, Antonio merasa banyak hal berubah. Kebencian terhadap etnis Tionghoa meningkat. Ia pun merasakannya. Kegamangan akan keamanan diri dan keluarganya memotivasi Antonio untuk mengikuti Lasem Pluralism Trail, ia berharap memperoleh pencerahan dalam acara ini. Indonesia yang lebih toleran menjadi mimpi besar Antonio.

Antonio aktif di Kadam Choeling Bandung, organisasi pusat penyebaran ajaran Buddha Shakyamuni dari tradisi kadam.

Dedy Ibmar

Dedy berasal dari keluarga suku Bugis. Ia tidak ingat lagi kapan keluarganya pindah ke Indragiri Hilir, Riau; hingga Dedy dilahirkan di sana.

Merasa menjadi minoritas di seputar masyarakat Melayu Riau, orang tua Dedy menekankan anaknya untuk saling menghormati sesama.

Ketika bertemu dengan teman-teman Madrasah Ibtidaiyyah yang kebanyakan beretnis Melayu, Dedy tidak merasa aneh apalagi benci.

Sebaliknya, Dedy kecil sering ditertawakan karena logat Bugis-nya yang sangat kentara.

Dedy dan dua sepupunya yang bersuku Bugis, seringkali dinomorduakan ketika sedang bermain dengan kawan-kawan Melayu. Saat pemilihan ketua kelas, Dedy kerap mendengar ucapan “Ketua harus orang kite”. Waktu itu, Dedy tidak mengerti apa maksud dari kata-kata tersebut.

Beranjak remaja, Dedy mulai dapat menembus jaringan pergaulan dengan teman-teman yang asli Melayu. Setelah menjadi lebih akrab, Dedy mulai memahami mengapa masyarakat Melayu memandang orang Bugis seperti penjahat yang sifat dan wataknya sangat keras. Dedy juga memahami mengapa orangtua teman-temannya acap kali menjaga jarak dengan orang Bugis.

Belajar dari pengalaman sederhana ini, Dedy menyadari bahwa stigma dan diskriminasi bermula dari lingkungan sosial terdekat, yaitu keluarga. Transfer pendidikan yang keliru semacam ini, tanpa disadari menjadi pemicu lahirnya gerakan-gerakan radikal yang menghancurkan sesama manusia.

Ketika Dedy menempuh pendidikan pesantren di Pekanbaru, ia jatuh cinta pada tulisan-tulisan Nurcholish Majid. Dedy merasa, Islam seperti yang diceritakan Cak Nur inilah yang ia rindukan.

Kini Dedy sedang berkuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jurusan Aqidah Filsafat Angkatan 2013. Ia aktif berkegiatan di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Di usia 22 tahun, tulisan Dedy tentang kajian Islam sudah banyak dipublikasikan berbagai media online seperti Islamlib.com, Geotimes.co.id, Tangerangonline.id. Beberapa media cetak arus utama juga pernah memuat tulisan Dedy di antaranya; Koran Sindo, Republika, dan Suara Karya. Dedy sendiri telah menyelesaikan penulisan sebuah buku yang ia beri judul “Kebebasan Tak Pantas Dimusuhi“.

Bagi Dedy, perjalanan ke Lasem nanti akan melengkapi “puzzle” kehidupannya untuk meraih pola pikir ideal.

Pasca Lasem Dedy akan berfokus pada riset individu sebagai bahan tulisan. Ia yakin, kelak dirinya akan mampu menghasilkan gagasan-gagasan baru melampaui Cak Nur, sang panutan.

Fajar Tumanggor

Fajar Tumanggor dilahirkan di keluarga Kristen suku Batak. Ibu Fajar menikah kembali dengan seorang muslim, 7 tahun setelah ayah kandung Fajar meninggal dunia karena sakit.

Hidup serumah bersama 5 saudara tiri yang muslim menempa Fajar terbiasa dengan perbedaan dan belajar bertoleransi.

Tekanan terbesar justru muncul dari masyarakat sekeliling yang selalu mempermasalahkan perbedaan agama dalam keluarga Fajar. Mereka menganggap hal ini adalah aib.

Pemuda 21 tahun yang kini menempuh perkuliahan di Jurusan Ilmu Politik FISIP Universitas Sumatera Utara ini termotivasi untuk belajar keberagaman dari keluarga-keluarga di Lasem, di mana perbedaan agama dalam sebuah keluarga bukan menjadi sebuah masalah.

Fajar aktif dalam Gerakan Sumut Mengajar, serta menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Toba Writers Forum hingga kini.

Belum lama ini Fajar memenangkan Juara Pertama Lomba Debat Politik se-Sumatera yang diselenggarakan oleh FISIP Universitas Riau – Pekanbaru.

 

Jenni Anggita

Jenni Anggita (27) pernah merasa tidak suka dilahirkan sebagai orang Tionghoa dan menyangkal diri sebagai Tionghoa. Dahulu, dalam persepsi Jenni, orang Tionghoa itu kaya, pedagang, pandai menghitung, sombong, licik dan pelit.

Seiring berjalannya waktu, kemudian Jenni mulai nyaman mengidentifikasi dirinya sebagai Cina Benteng, berdasarkan informasi bahwa dahulu keluarga neneknya bertempat tinggal di Tangerang, Banten.

Kini Jenni tengah menempuh pendidikan jenjang pasca sarjana di Jurusan Kajian Budaya Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya- Universitas Indonesia.

Jenni aktif di Komunitas Agenda 18, komunitas penulis muda Katolik berwawasan pluralis. Esai-esai Jenni dengan tema beragam juga telah dipublikasikan di berbagai media.

Jenni ingin belajar lebih mendalam tentang radikalisme, fundamentalisme, dan konservatisme dalam berbagai sesi Lasem Pluralism Trail. Ia juga tertarik untuk belajar tentang kekayaan budaya Tionghoa di Lasem, di luar budaya asalnya sebagai keturunan Cina Benteng

Jenni berharap perjalanan ke Lasem ini akan memberi inspirasi pada dirinya dalam menulis tesis, serta menulis esai-esai tentang pluralisme.

Ni Luh Putu Juli Wirawati

Bagi Juli Wirawati (21), berkuliah di Jogja di antara kawan-kawan yang mayoritas muslim bukan merupakan suatu hal yang luar biasa; walaupun ia harus ikut menahan lapar pada bulan puasa ketika warung-warung banyak yang tutup.

Juli lahir dan dibesarkan di Bali, sebagai penganut Hindu konservatif yang tadinya tak pernah bermimpi akan meninggalkan Bali untuk merantau.

Ketika akhirnya diizinkan orangtuanya untuk menempuh perkuliahan di Jurusan Ilmu Komunikasi – Kajian Jurnalisme dan Media- FISIP Universitas Gajah Mada, Juli sangat bersemangat karena merasa tenang berada di Jogja yang disebut-sebut sebagai “kota toleran”.

Kemudian, Juli menemukan kenyataan yang bertolak belakang, bahwa sebagian masyarakat Jogja belum mau menerima keberadaan komunitas transgender di lingkungan mereka. Kerinduan masyarakat transgender untuk belajar agama dengan cara mendirikan Pondok Pesantren Al-Fatah pada 2008 mendapat tentangan keras karena dianggap meresahkan warga, hingga akhirnya ditutup paksa pada 2016 lalu.

Peristiwa ini membekas dalam hati Juli, sehingga menguatkan tekadnya memperjuangkan kebebasan beragama bagi setiap individu melalui kerja-kerja jurnalisme yang jalannya sedang ia rintis.

Dalam proses Lasem Pluralism Trail nanti, Juli ingin menyaksikan langsung bagaimana masyarakat Lasem hidup berdampingan dalam keberagaman. Juli ingin berdiskusi dan berinteraksi dengan mereka untuk mempertajam kemampuan menulisnya.

Saat ini, Juli bergiat di Divisi Redaksi Badan Penerbitan Pers Mahasiswa Balairung Universitas Gadjah Mada.

Lintang Ayu Saputri

Dibesarkan dengan pengajaran moralitas yang kaku, Lintang Ayu Saputri (19) merasa memperoleh wadah belajar yang lebih terbuka ketika memasuki dunia kampus pada 2015. Lintang tercatat sebagai mahasiswi semester 5 Ilmu Administrasi Negara di FISIP Universitas Jend. Soedirman Purwokerto.

Rasa ingin tahu, mendorong Lintang bergabung dengan aksi menolak Ahok di alun-alun kota Purwokerto beberapa waktu lalu. Dalam polemik mengenai memilih pemimpin, Lintang menganggap bahwa tidak ada yang salah dari ayat yang menganjurkan muslim untuk memilih pemimpin yang juga muslim.

Hanya saja, Lintang merasa adalah tidak sepantasnya  aksi tersebut kemudian diikuti dengan yel-yel yang mengajak umat muslim “membakar” umat non-muslim. Nurani Lintang berontak, ia merasa malu saudara-saudara seimannya berlaku seperti itu.

Di lain sisi, Lintang juga berpendapat, media arus utama di Indonesia terlalu memojokkan umat muslim yang terlibat aksi menentang Ahok dengan memberi label “kelompok intoleran”. Pendapat yang muncul di kalangan kawan-kawan Lintang, bahwa ketika muslim hanya memilih pemimpin yang sesama muslim itu bukanlah tindakan intoleransi. Polemik ini membuat Lintang gamang dan merasa perlu memperdalam pemahamannya tentang esensi toleransi.

Selain itu, Lintang dan kawan-kawannya menganggap pemberitaan media yang timpang mendorong meningkatnya stigma negatif terhadap umat Islam, sementara Lintang belum merasa mampu untuk meluruskan berbagai tudingan tersebut.

Sebagai Kepala Departemen Syiar Unit Kerohanian Islam FISIP Unsoed, Lintang merasa memiliki tanggung jawab untuk memahami lebih dalam pluralisme.

Lintang berharap, keikutsertaannya dalam Lasem Pluralism Trail dapat menolongnya memperluas wawasan dalam menyusun materi ajar di Departemen Syiar yang dipimpinnya.

 

M. Dalhar Sobri

Dalhar Sobri (28) berdomisili di Jepara yang mayoritas masyarakatnya memiliki gengsi tinggi,  dengan tingkat pendidikan yang masih rendah. Menurut Dalhar, kontradiksi ini berkontribusi pada tingginya potensi konflik. Contohnya, masih banyak generasi muda di Jepara yang terlibat tawuran antar desa hanya karena acara hiburan.

Dalhar yang pernah mengecap keindahan keberagaman masyarakat Jawa, Tionghoa dan Arab ketika berkuliah di Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Negeri Solo; ingin membagikan pengalaman tersebut lewat kiprahnya di dunia pendidikan.

Sebagai pengajar mata pelajaran sejarah di sebuah SMA di Jepara, Dalhar ingin memberikan contoh-contoh kasus yang bersifat aktual agar mata pelajaran yang diampunya menjadi lebih hidup.

Tidak terbatas pada dunia pendidikan, Dalhar juga bergiat di organisasi kepemudaan GP Ansor sebagai Sekretaris Pengurus Anak Cabang (PAC) Kecamatan Bangsri. Dalhar berkeinginan melakukan kajian atau penelitian tentang keragaman masyarakat Jepara bersama rekan-rekan di GP Ansor.

Dalhar rutin menulis hingga saat ini. Pernah bergelut sebagai jurnalis di Kota Solo, menyuburkan minat Dalhar untuk terus menulis, baik dalam bentuk buku, artikel di koran/majalah, maupun catatan harian.

Bagi Dalhar, era digital seperti saat ini, memungkinkan tulisan menjadi poin strategis untuk mempercepat perubahan.

Dalhar tengah dalam proses menyelesaikan pendidikan Magister Ilmu Sejarah di FIB Universitas Diponegoro Semarang.

Maria Nofianti

Maria Nofianti (28) lahir di Cilacap Jawa Tengah, sejak kecil ia sudah tak asing dengan keberagaman. Ayah Maria beretnis Tionghoa beragama Kristen yang akhirnya memutuskan untuk memeluk agama Islam ketika menikah dengan ibu Maria. Ibu Maria beretnis Tionghoa, yang menganut Islam sejak lahir.

Ketika Maria duduk di bangku Sekolah Dasar Negeri yang notabene mayoritas siswanya  beretnis Jawa dan beragama Islam, ia selalu dirundung di sekolah.

Teman-teman Maria kerap mengejek, “Orang Kristen itu matinya disalib!“. Sebagai anak kecil Maria ngeri mendengarnya. Selain karena ia beragama Kristen,  orang tua Maria yang beretnis Tionghoa menjadi bahan empuk ejekan kawan-kawannya. “Cina Lole!,” begitu lontaran mereka pada Maria kecil.

Maria sebenarnya tak begitu ambil pusing karena awalnya kurang mengerti. Tapi ketika Maria makin dewasa, ia semakin merasakan keberadaan dirinya yang dianggap liyan.

Belum lama ini dengan kesadaran penuh, Maria memutuskan untuk menganut agama Islam. Pergolakan identitas di masa kecilnya menjadikan Maria cukup tangguh menghadapi cibiran dan stigma.

Kini Maria bergiat dalam program PEDULI, kegiatan inklusi sosial yang mendorong terwujudnya perdamaian dalam keberagaman, melalui lembaga swadaya masyarakat LPPLSH Purwokerto tempat Maria bekerja sebagai relawan.

Keterlibatan di Lasem Pluralism Trail dirasa sangat penting bagi Maria yang sedang merancang berbagai kampanye digital untuk mempromosikan keberagaman Indonesia.

 

 

Muhammad Arief Rahadian

Lahir dan tumbuh di lingkungan yang homogen membuat Arief Rahadian (23) memandang keberagaman
sebagai sebuah konsep yang asing. Terlebih, baik keluarga inti maupun keluarga besar Arief terdiri dari individu-individu yang sangat konservatif.

Sejak kecil, Arief sudah dijejali dengan doktrin-doktrin “kita yang paling benar” dan “kita yang paling hebat”.

13 tahun pertama dalam hidup Arief didominasi oleh insensitivitas, perasaan superior dalam beragama, serta ekspresi intoleran terhadap sesama.

Namun perlahan-lahan, Arief mulai berubah sejak mengenal Mr. Situmorang, guru Bahasa Inggris di jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Di sela-sela mengajar Bahasa Inggris, Mr. Situmorang mampu menularkan nilai-nilai toleransi pada Arief.

Puncaknya, ketika Arief mengikuti program sarjana di Departemen Sosiologi Universitas Indonesia. Masa-masa perkuliahan merupakan titik balik bagi Arief, yang mengalami pergulatan pribadi terkait identitas seksualnya.

Arief mulai bersentuhan langsung dengan para liyan, dengan tujuan untuk mengenal diri sendiri; mulai dari pekerja seks, waria, kelompok agama minoritas, hingga kelompok homoseksual. Pertemuan-pertemuan inilah yang akhirnya membuat Arief mengerti, bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan dari perbedaan; tiap diri yang berbeda ini ditakdirkan untuk hidup bersama.

Arief berharap, mengikuti Lasem Pluralism Trail akan menjadi pengalaman dialog yang baru baginya. Program ini juga sejalan dengan aktivitas penelitian, dan minat kajian Arief di Support Group and Resource Center on Sexuality Studies yang membahas tentang keberagaman seksual, serta di Cultural Transformation and New Media Research Cluster, yang membahas tentang pemuda dan keberagaman.

Selain itu, Arief juga sedang terlibat dalam proyek penelitian yang relevan dengan program Lasem Pluralism Trail: pembuatan modul tentang kehidupan kelompok minoritas agama dengan Sandya Institute.

 

Zulyani Evi

Zulyani Evi (22) memiliki darah campuran Ambon dari pihak kakek di pihak ibunya dan dari ayahnya yang berdarah Jawa.

Lahir di Bogor, tetapi selalu pulang kampung ke Jogja di mana keluarga dari pihak ayahnya bermukim, membuat Evi merasa benar-benar Indonesia.

Evi berpendapat, konflik identitas yang marak terjadi akhir-akhir ini adalah karena sejarah tidak lagi dianggap penting untuk dipelajari, sehingga orang-orang melupakan jatidiri bangsa yang memang dibangun atas keberagaman.

Sebagai mahasiswi Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Negeri Sebelas Maret Solo, Evi berkesempatan melakukan penelitian dan pengabdian di Banda Neira pada 2016 lalu. Evi menemukan bahwa Banda Neira merupakan laboratorium keberagaman di mana berbagai etnis dan kebudayaan melebur jadi satu.

Pulang dari Banda Neira, Evi terus bergerak dengan meluncurkan penggalangan dana mandiri untuk pengelolaan sampah di Banda Neira, serta penggalangan dana untuk membiayai program edukasi cinta lingkungan bagi anak-anak di bantaran Sungai Kalianyar dalam wadah Rumah Hebat Indonesia (RHI).

Saat ini Evi sedang menyelesaikan skripsi mengenai Sejarah Kota Banda Neira. Pada 2016 lalu di Rumah Budaya Banda Neira, Evi  menemukan koleksi batik Lasem dari abad ke-18, yang membuktikan bahwa Kepulauan Banda yang terpencil sudah memiliki hubungan dengan Lasem sejak lama.

Evi berharap, perjalanan ke Lasem akan memperkaya dirinya secara teknis untuk melanjutkan kerja-kerja sosial kemasyarakatan, serta kiprahnya di dunia literasi.

Di usianya yang belia, Evi sudah menelurkan dua buah buku hasil suntingannya; Lokananta Sejak 1956 & Banda Neira Bercerita.

  •  
    320
    Shares
  • 320
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •