Rujak Pare, Simbol Melawan Lupa Tragedi 1998

Share the knowledge!

Undangan itu datang lewat WhatsApp, mengajak hadir di Gedung Rasa Dharma (Boen Hian Tong)  Jl. Gang Pinggir Nomor 31 Semarang pada Minggu, 13 Mei 2018, pukul 09.30-10.00 WIB untuk mengenang Mei 1998. Acaranya sederhana: doa bersama, memakai pita hitam, dan makan rujak pare.

Pare? Pare yang super pahit itu? Dibuat rujak?

Jagongan Rujak Pare, Mengenang Tragedi 1998. Foto: Agus Budi Santoso

“Rujak pare dengan sambal kecombrang ini ada maknanya,” terang Harjanto Halim, ketua Perkumpulan Rasa Dharma, sang pengirim undangan. “Kepahitan pare melambangkan pahitnya tragedi Mei 1998. Bunga kecombrang simbol perempuan Tionghoa yang jadi korban perkosaan massal. Mereka ibarat diulek, dianiaya, dihancurleburkan di cowek batu.”

Dari rilis penyelidikan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) pada 23 Oktober 1998, didapati orang Tionghoa di Jakarta dan sekitarnya, Surabaya, Medan, dan Solo banyak menjadi korban selama huru-hara 13-15 Mei 1998. Bukan hanya kerugian material karena penjarahan toko dan rumah, ada kekerasan seksual terhadap perempuan Tionghoa, mulai dari pelecehan sampai perkosaan gang-rape dengan penganiayaan. Tim berhasil mengumpulkan lebih dari 150 laporan kekerasan seksual. Sebanyak 68 kasus perkosaan terverifikasi.

Ita Fatia Nadia, anggota Komisi Nasional Perempuan sekaligus aktivis yang mendampingi para korban perkosaan di Jakarta, pernah bercerita tentang satu keluarga terdiri dari ibu dan dua anak perempuan berusia 18 dan 11 tahun menjadi korban perkosaan. “Ketiganya akhirnya meninggal dunia, yang paling kecil meninggal dalam pelukan saya,” kenangnya lalu terdiam sejenak. (Sumber: https://www.rappler.com/indonesia/133617-cerita-pemerkosaan-mei-1998)

 

Melestarikan Memori Lewat Makanan

Mengenang Tragedi 1998.
Foto: Agus Budi Santoso

Harjanto bercerita, semula ia hanya secara pribadi memperingati tragedi tersebut. Di setiap upacara sembahyang arwah (King Hoo Ping), ia menancapkan papan kertas di altar untuk korban-korban kerusuhan Mei 1998. Namun, ia merasa gelisah melihat kian tergerusnya ingatan kolektif tentang peristiwa kelam ini. “Bukan hanya dilupakan, malah ada pula yang menyangkal bahwa peristiwa itu benar-benar pernah terjadi,” sesalnya.

Sepuluh tahun berlalu. Pada tahun 2008, Harjanto mengajak sejumlah kawan untuk memperingati  tragedi Mei 1998 sekaligus 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional. Panitia mengundang grup ketoprak untuk pentas di latar kelenteng Tay Kak Sie Semarang. Ketoprak ini mengangkat kisah dari novel “Putri Cina” karangan Sindhunata.  “Penonton terharu sekaligus tertawa, tapi begitu pertunjukan usai, usai pula peringatan, tak ada kenangan membekas. Eman (sayang)!” Begitulah, ia merasa peringatan dengan pementasan meriah ini tidak terlalu berhasil.

Kegelisahan masih terus bercokol dalam hatinya ketika, pada tahun 2015, Harjanto tiba-tiba teringat Festival Peh Cun. Tradisi makan bakcang yang diselenggarakan tiap tanggal 5 bulan 5 Imlek itu dilatarbelakangi kisah tragis. Qu Yuan (340-278 SM), seorang menteri yang jujur dan banyak berjasa, difitnah sampai diusir dari negerinya, Kerajaan Chu. Beberapa waktu kemudian ia mendengar negerinya akhirnya jatuh ke tangan musuh. Karena sangat sedih, Qu Yuan menceburkan diri ke sungai. Rakyat yang mencintainya berbondong-bondong naik perahu ke tengah sungai, sambil memukul drum dan melemparkan bungkusan-bungkusan kue beras agar ikan-ikan tidak mengganggu tubuh Qu Yuan.  Sekarang, Festival Peh Cun adalah tradisi yang dipraktikkan orang keturunan Cina di seluruh dunia.

“Dalam budaya Tionghoa, kalau suatu tradisi dikaitkan dengan makanan, biasanya jadi langgeng, seperti sembahyang Tang Cik, Tiong Jiu Pia, Cap Go Meh. Asal ada makanan, semua orang kelingan (teringat),” seloroh Harjanto. Dari situlah, ia punya ide memperingati tragedi Mei 1998 dengan makan rujak pare dengan sambal bunga kecombrang yang pedas sekali. “Peristiwa Mei 1998 adalah kepahitan pare yang diiris tipis-tipis, dimakan perlahan dengan cocolan sambal kecombrang cabe rawit yang pedasnya bikin orang mencucurkan air mata,” begitulah usulnya. Dan tahun 2018 ini, tepat saat peringatan 20 tahun tragedi Mei, usul itu diwujudkan.

 

Cerita-Cerita yang Jangan Terlupa

Satu per satu tamu berdatangan ke aula Rasa Dharma. Lintas etnis, lintas agama, mereka santai mengobrol satu sama lain. Acara dimulai dengan doa bersama. Setelah itu para peserta dipersilakan mencicipi rujak pare, jus pare dan siomay pare, disambung dengan bertukar narasi.

“Bulan Mei 1998 itu saya ada di Jakarta, bareng-bareng kawan mahasiswa ikut demo. Tragedi Mei itu nyata, saya melihat mobil dibalik, dirusak, dibakar. Tapi saya tidak sadar sedang terjadi kerusuhan rasial, saya baru paham kemudian,” tutur Lirik Soebakti, seorang karyawan swasta asal Surabaya yang kini menetap di Semarang.

Chendra Ling-Ling
Foto: Agus Budi Santoso

Peserta lain bernama Ling-Ling membagikan cerita tentang rasa panik yang ia dan kawan-kawannya alami di Mei 1998 itu karena simpang siur informasi. “Dari kakak ipar kawan kantor yang jadi polisi, kami mendengar kabar bahwa akan ada massa drop-dropan dari daerah Batang dan sekitarnya untuk mengacau di Semarang. Saat itu berita dari Jakarta sudah mencekam. Kami dipulangkan dari kantor. Teman saya  tidak berani balik ke kos. Kami semua pulang dan selama beberapa hari tidak berani keluar rumah, serba panik sendiri,” kisah Ling-Ling dengan emosional, sampai menangis.

Kesaksian demi kesaksian dibagikan. Ada pula yang membaca puisi. Suasana semakin reflektif dan haru. Bahkan hadirin yang secara etnis dan agama ia dianggap “kelompok mayoritas” ikut emosional. “Saya trenyuh pada kenyataan bahwa masih ada saja, bahkan sampai sekarang, yang menjadikan WNI keturunan Tionghoa sebagai sasaran utama jika ada kerusuhan,” kata Sukma Nurna, seorang pemilik Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang bergiat dalam pendidikan pluralisme. “Mengapa orang yang sudah 3-4 generasi bermukim di Indonesia tetap distigma sebagai orang asing?”

Pertanyaan Sukma ini senada dengan pertanyaan Lani, salah satu korban perkosaan Mei 1998. Kesaksian Lani dimuat dalam buku “Tragedi Mei 1998 dalam Perjalanan Bangsa: DISANGKAL!” terbitan Komisi Nasional Perempuan (2003). Lani disergap oleh massa saat ia dan suaminya berboncengan motor untuk mengantar pesanan kue. Akibat peristiwa perkosaan itu, Lani mengalami luka-luka fisik maupun trauma psikis mendalam. Ia juga ditinggalkan oleh suaminya yang menganggap ia sudah ternoda.

“Sampai sekarang, saya tidak habis pikir. Mengapa hanya gara-gara soal pergantian presiden, ada segelintir orang yang tega memperkosa orang Cina dan membakari rumah orang Cina? Mengapa ada orang yang tega menelanjangi dan memperkosa seorang perempuan ramai-ramai, seperti binatang? Meski keturunan Cina, saya adalah orang Indonesia. Makco (nenek, ed.) dan buyut saya lahir di Indonesia. Kulit saya putih, mata saya memang sipit. Apakah karena itu saya patut diperlakukan berbeda?” ungkap perempuan berusia 42 tahun itu kepada konselornya.

 

Melupakan Karena Takut?

Bagi Harjanto, kekejian semacam itu jangan sampai dilupakan. “Peristiwa Mei 1998 adalah kenyataan pahit yang harus ditelan. Tapi tanggung jawab kita sebagai anak bangsa untuk mengingatnya, supaya jangan sampai peristiwa terkutuk itu berulang,” katanya. Ia kuatir pertama-tama pada generasi muda yang tak mengalaminya, tapi juga pada generasi yang mengalami tapi sengaja merepresi ingatan itu. “Kalau orang non-Tionghoa tidak tahu bahwa  (perkosaan massal) itu pernah terjadi, masih bisa dimaklumi. Tapi banyak orang Tionghoa yang sebetulnya tahu, malah memilih untuk melupakannya, tidak mau membicarakan lagi.”

Menurut Mely G. Tan, pasca Mei 1998, ada berbagai respons yang muncul di kalangan Tionghoa. Yang dominan ia lihat adalah rasa bingung. Dalam esainya di buku “Etnis Tionghoa di Indonesia” (2008), Mely mengamati betapa banyaknya laki-laki maupun perempuan Tionghoa membanjiri berbagai seminar untuk mendapat jawaban dari para pakar atau tokoh masyarakat: Mengapa ini terjadi? Kami harus melakukan apa? Bagaimana nasib kami kemudian? Mereka juga meluapkan amarah karena negara tidak hadir untuk melindungi warganya.

Respons lainnya yang muncul, kata Mely, adalah melarikan diri. Orang Tionghoa panik mencari tempat yang dianggap lebih aman. Yang punya uang lari ke luar negeri, terutama ke negara terdekat seperti Singapura dan Australia. Ada yang pindah ke luar Jakarta. Yang tak mampu pindah, mengungsi ke hotel-hotel. Sekitar awal Juni, sebagian dari mereka kembali, tapi kebanyakan hanya para lelaki. Istri dan anak-anak perempuan tinggal di pengungsian lebih lama. Eksodus besar-besaran ini lantas dikritik sebagian pengamat, mereka menilai orang Tionghoa tidak nasionalis karena meninggalkan Indonesia di saat genting. “Para komentator sama sekali mengabaikan fakta bahwa orang-orang Tionghoa pergi gara-gara diserang secara fisik dan tidak diberi perlindungan oleh aparat,” kecam Mely.

Mely mendeteksi bahwa psike mayoritas orang Tionghoa dipenuhi ketakutan. Dalam survei yang diselenggarakan Tempo menjelang pemilihan umum 1999 di lima kota yang terpadat populasi Tionghoanya – Jakarta, Bandung, Medan, Semarang, dan Pontianak – muncul beberapa fakta menarik.  Banyak calon responden yang menolak diwawancarai karena takut. Dari yang mau diwawancarai, ketika ditanya “Apa hambatan anda untuk berpartisipasi dalam politik?”, separuh lebih menyatakan “takut keselamatan mereka terancam”, sedang sisanya mengkhawatirkan keluarga dan pekerjaan diganggu serta takut dimusuhi. Mayoritas juga menganggap berdirinya partai politik beridentitas Tionghoa hanya akan menambah masalah bagi orang Tionghoa dan akan menuai permusuhan dari publik.

Psikolog Kelly McGonigal mengatakan bahwa rasa takut datang dari bagian otak belakang yang paling primitif. Respons alamiah ini muncul setiap kali berhadapan dengan sesuatu yang mengancam. Tubuh dibanjiri dengan hormon stres dan kekuatan kehendak dilumpuhkan. Pikiran dikunci untuk fokus pada tujuan dan hasil seketika atau jangka pendek. Dalam banyak kasus, langkah paling sulit dalam menjadi berani adalah menghadapi rasa takut itu sendiri.

We cannot heal what we will not face, tidak mungkin memulihkan luka yang tidak mau kita akui,” begitu kesimpulan Rani Pramesti dalam bab terakhir novel grafis audio-visualnya “The Chinese Whispers” (http://thechinesewhispers.com). Dalam novel itu, Rani bercerita bahwa ia termasuk anak perempuan yang diajak lari oleh keluarganya ke Australia pasca Mei 1998. Sekian lama ia berusaha mengubur kenangannya dan berusaha menjadi Rani yang lain. Namun akhirnya ia mengikuti tuntunan hatinya untuk memandang masa lalu muka dengan muka.

Yang membuat Rani kaget, tenyata proses mengingat masa-masa paling kelam dalam hidupnya sendiri membuka kesadaran dan membangkitkan empatinya kepada banyak orang. “Saya bertemu dengan orang-orang yang tak duga saya temui, dan mengalami percakapan-percakapan yang menumbuhkan karya saya,” katanya. Membuka hati untuk membicarakan Mei 1998, ia dapati menyiapkan seseorang untuk menyibak kejadian-kejadian kelam lainnya dalam sejarah Indonesia yang patut kita peringati dan bicarakan.

 

Memulai Tradisi Baru

Widjajanti Dharmowijono.
Foto: Agus Budi Santoso

“Ternyata pare-nya tidak pahit, malah enak!” protes Widjajanti Dharmowijono kepada Harjanto sambil tersenyum. Peneliti spesialis stereotip terhadap orang Cina di Nusantara itu merasa cocok dengan jus pare yang dicampur dengan manisan plum. Pahit menjadi samar, bercampur dengan rasa manis dan kecut segar.

“Kalau pahit sekali, tahun depan tidak ada yang mau datang lagi, Cik,” kelakar Harjanto, menyapa nama akrab perempuan berambut perak itu.

Widjajanti kemudian berefleksi bahwa sejatinya dia merasa bersalah karena menikmati rujak pare, alih-alih menangis saat memakannya. “Rasanya seperti tidak menjiwai makna dan tujuan acara ini untuk mengenang korban tragedi Mei 1998, seakan saya tidak ikut berkabung meskipun memakai pita hitam di pergelangan tangan,” tuturnya. Padahal, lanjutnya, justru karena tragedi Mei 1998 itulah ia selama sepuluh tahun lebih meneliti pencitraan orang Cina di Nusantara. Karena tragedi itulah ia dan suaminya mengirim anak perempuan mereka ke luar negeri saat dia belum tamat SMA.

Namun, kemudian Widjajanti membantah rasa bersalahnya sendiri. “Saya tidak perlu merasa bersalah ya, wong saya juga menikmati bakcang.” Lalu ia menambahkan dengan nada apresiasi, “Saya pikir makan makanan dari pare adalah awal tradisi yang sangat bagus. Melawan lupa. Terima kasih sudah memulainya. Masih kurang luas sosialisasinya, tapi untuk sebuah awal, sudah bagus.”

Para peserta saling berpamitan. Acara makan rujak pare telah usai. Kenangan telah dibongkar dan dibagikan. Telah dimulai suatu tradisi baru untuk melawan lupa dan, mudah-mudahan, juga melawan ketakutan.

*Foto Rujak Pare: Agus Budi Santoso


Share the knowledge!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Related Post

Leave a Comment