Wayang Potehi, Seni Pertunjukan Lintas Kultur yang Terancam Mati

Share the knowledge!

Wayang Potehi. Nama ini cukup asing bagi telinga orang Indonesia. Wayang Potehi adalah wayang boneka yang terbuat dari kantung kain. Cara memainkannya adalah dengan memasukkan tangan ke dalam kantung kain dan memainkannya seperti layaknya wayang kulit.

Wayang Potehi dimainkan menggunakan kelima jari tangan. Tiga jari tengah; telunjuk, jari tengah, dan jari manis berfungsi mengendalikan bagian kepala wayang, sedangkan ibu jari dan jari kelingking berperan menggerakkan bagian tangan wayang.

Wayang Potehi merupakan seni pertunjukan boneka tradisional yang berasal dari Cina Selatan. Potehi adalah kata serapan dari dialek Hokkian, yakni : poo (artinya kain), tay (artinya kantong), dan hie (artinya wayang); sedangkan dalam bahasa Mandarin disebut 布袋戯 (baca : Bu Dai Hu). Diperkirakan usia wayang Potehi sudah lebih dari 3.000 tahun. Tercatat, wayang Potehi dimainkan sejak abad 17 di Quanzhou dan Zhangzhou di Provinsi Fujian. Selain di daerah itu, Wayang Potehi banyak juga dimainkan di Provinsi Guangdong, dan ditemukan juga di Chaoshan, Taiwan.

Menurut cerita yang menyebar melalui tutur secara turun temurun, Wayang Potehi diinisiasi oleh lima orang terpidana mati di sebuah penjara. Empat orang berputus asa, tetapi si terpidana kelima justru memiliki ide cemerlang. Alih-alih pasrah menunggu ajal, ia menghibur diri dengan memanfaatkan perkakas yang bisa digunakan di dalam penjara; seperti panci dan piring. Ia mengajak keempat temannya menabuh musik dan memainkan wayang. Keindahan permainan musik mereka ini tanpa sengaja didengar oleh Kaisar, yang kemudian menganugerahkan pengampunan kepada mereka.

Wayang Potehi diperkirakan sudah ada sejak masa Dinasti Jin (265-420 M) dan berkembang pada Dinasti Song (960-1279 M). Wayang Potehi masuk ke Indonesia melalui orang-orang Cina yang bermigrasi sekitar abad ke-16.

Maestro Wayang Potehi Asal Semarang

Thio Tiong Gie atau Teguh Chandra Irawan adalah dalang Wayang Potehi legendaris asal Kampung Pesantren, Kelurahan Purwodinatan, Semarang. Kiprahnya dalam mementaskan Wayang Potehi ia awali sejak usia 25 tahun. Pria kelahiran tahun 1933 ini malang melintang mementaskan Wayang Potehi berkeliling Indonesia; Tegal, Solo, Purwokerto, Mojokerto, Surabaya dan Jakarta dirambahnya.

Pertengahan Agustus 2014 silam, Thio Tiong Gie meninggal. Saat itu ia tidak mempunyai murid, dan tidak satupun anaknya mewarisi keterampilan mementaskan Wayang Potehi. Wajar jika para penggemarnya merasa kehilangan. Keberlangsungan kesenian Wayang Potehi di Semarang nampaknya suram. Tinggal menunggu waktu hingga pernak-pernik Wayang Potehi berakhir di ruang pajang para kolektor atau museum-museum sejarah.

Penerus sang Maestro

Semasa hidup dan aktif mendalang, anak-anak Thio Tiong Gie memang sering ikut serta dalam pementasan. Ada Thio Haouw Lie (Heri Chandra Irawan) dan sang adik Thio Haouw Lie (Herdian Chandra Irawan). Kebetulan Thio Haouw Lie yang paling sering ikut ketika ayahnya mendapat panggilan pementasan Wayang Potehi.

Wajar jika selepas ayahnya meninggal, Haouw Lie berinisiatif melanjutkan pelestarian seni Wayang Potehi. Haouw Lie memilih jalan hidup yang sama dengan sang ayah, menjadi dalang Wayang Potehi. Muncul sedikit harapan akan berlanjutnya pertunjukan kesenian Wayang Potehi di Semarang

“Setelah papah (red=ayah) mulai pikun dan jatuh sakit sampai meninggal, saya baru terpikirkan tentang wayang ini. Saya tawarkan ke saudara-saudara, siapa tahu ada yang mau melanjutkan. Ternyata tidak ada yang menjawab untuk melanjutkan. Kakak perempuan saya malah menyarankan untuk menyumbangkan perlengkapan wayang tersebut, kecuali jika saya mau melanjutkan,” kenang Haouw Lie. Ia menceritakan bagaimana pergumulannya sebelum memutuskan meneruskan jejak ayahnya menjadi dalang. Akhirnya pada awal 2015, Haouw Lie memulai karirnya sebagai dalang bermodal keterampilan otodidak.

Dalang Pemula yang Tekun Belajar

Semenjak kesehatan ayahnya kian menurun, Haouw Lie mulai lebih sering menyertainya berpentas, terutama kalau ke luar kota. Tidak jarang Haouw Lie mengajak anaknya, meskipun hanya untuk sekedar bongkar pasang panggung.  “Di sela-sela pementasan, kami duduk disamping papah untuk melihat teknik papah main, mendengar dialognya, sambil kita jahil main wayang,” ungkap Haouw Lie dengan mata berkaca-kaca. Waktu luang seperti itu adalah kesempatan satu-satunya yang ia miliki untuk belajar mendalang secara otodidak.

Thio Tiong Gie, semasa hidupnya memang selalu berpesan kepada anak-anaknya untuk tidak menjadikan dalang sebagai profesi. “Jangan sampai jadi profesi dan berpikiran mencari nafkah dari bermain wayang, begitu pesan papah. Wayang Potehi harus dimaknai sebagai kesenian,” tutur Haouw Lie sembari merapikan wayang-wayangnya usai pementasan dua lakon pada acara Pasar Semawis 2017.

Wayang Potehi tidak mungkin mendapat panggilan pentas setiap hari, karena keterbatasan itulah Tiong Gie mengajari anak-anaknya untuk menekuni pekerjaan lain selain mendalang. Sikap ayahnya membawa Haouw Lie akhirnya tidak  digembleng ilmu mendalang oleh sang maestro.

Kesulitan Mengawali Kembali

Kelenturan memainkan wayang belum terlalu dikuasai Haouw Lie, ia juga minim pengetahuan tentang cerita-cerita klasik yang biasa dipentaskan dalam Wayang Potehi. Kendala lain yang dihadapi Haouw Lie adalah keterampilan memainkan alat musik para anggota kelompok wayangnya belum meningkat secara signifikan.

Belum lagi, saat memulai mendalang pasca ditinggal sang ayah, ada beberapa wayang yang rusak sehingga harus dibuatkan duplikat. “Jujur saja, saya berharap ada senior dari luar kota yang berkenan memberi masukan dan menularkan ilmunya pada kelompok kami,” keluhnya dengan suara khas yang lantang. Haouw Lie merasa benar-benar memerlukan bimbingan untuk memperdalam ilmunya tentang Wayang Potehi.

Secara terbuka Haouw Lie mengaku bahwa dirinya tidak terlalu menguasai dialek Hokkian. Padahal dalam beberapa dialog, terutama saat sedang menyanyi, lazimnya dalang masih menggunakan dialek Hokkian. “Beberapa saya tulis di sini mas, saya membacanya saat sedang pentas,” ujar Haouw Lie sambil menunjukan buku tulis bertuliskan beberapa baris kalimat dialek Hokkian yang ia tulis sendiri. Buku contekan itu ia simpan di sebuah rak di bawah panggung utama. Memang seiring berjalannya waktu beberapa dialog tersebut berhasil ia kuasai.

Sementara untuk minimnya ide cerita, Haouw Lie mencoba mengakalinya dengan sering menonton film-film berlatar belakang kebudayaan Cina, yang tentunya harus mengandung nilai-nilai kebaikan. Bahkan Haouw Lie mengaku kalau dirinya tidak jarang mendapat inspirasi dan referensi cerita-cerita pementasan wayang dari DVD film-film Cina yang sengaja ia buru di berbagai pusat perbelanjaan.

Houw Lie sebenarnya sangat berharap, kedua asisten senior ayahnya mau ikut mengembalikan kejayaan Wayang Potehi di Semarang, dengan bergabung di kelompok wayang asuhan Houw Lie. Tetapi sangat disayangkan, kedua asisten senior tersebut lebih memilih bergabung ke kelompok Wayang Potehi di Jawa Timur.

Mempromosikan Wayang Potehi di Semarang

Selama ini memang cukup banyak pihak yang menemui Haouw Lie untuk keperluan wawancara; dari kalangan pelajar hingga mahasiswa sedang mengerjakan skripsi. “Kami sering diwawancarai, mudah-mudahan dari wawancara tersebut akan banyak orang yang membaca dan menyukai Wayang Potehi,”  harap Haouw Lie. Haouw Lie ingin membuat orang terlebih dahulu menyukai Wayang Potehi, karena setelah suka, bisa jadi ada orang yang  kemudian serius mempelajarinya.

Haouw Lie kerap berkeliling ke sekolah-sekolah di Semarang untuk mengajar siswa memainkan Wayang Potehi. Cukup banyak sekolah yang ia kunjungi, diantaranya Sekolah Nusa Putra, SMA Kolese Loyola dan Sekolah Kuncup Melati. Kini, beberapa murid yang ia ajari sudah ada yang mampu mementaskan sendiri Wayang Potehi di sekolah. Menariknya, murid-murid Houw Lie tidak hanya berasal dari etnis Tionghoa saja, tetapi dari berbagai etnis. Bahkan para asisten Haouw Lie juga banyak yang berasal dari etnis Jawa.

Opini Tokoh Tridharma

Ardian Zhang, salah satu peneliti di Majelis Rohaniawan Tridharma Seluruh Indonesia berpendapat, bahwa Wayang Potehi seharusnya jangan terlalu berfokus pada dialek Hokkian. “Seharusnya menggunakan bahasa Jawa saja, itu (red:Wayang Potehi) kan sudah akulturasi,” ungkap Ardian yang selama ini menekuni kajian Taoisme.

“Beberapa negara sudah banyak juga yang mengubah cerita pakem dari Wayang Potehi. Misalnya, perjalanan Sun Gokong ke Barat, sudah banyak itu versinya,” jelas Ardian. Menurut pengamatannya, seniman di negara Cina lebih maju dan mampu bertahan hidup karena negara sangat memperhatikan kesejahteraan seniman. Hal itu sulit ditemui di Indonesia. “Keberlangsungan Wayang Potehi tergantung pada kejelian negara melihat potensi pariwisata dalam kesenian,itu kuncinya” tegas Ardian.

Wayang Potehi Lebih Berkembang di Jawa Timur

Tidak sedikit yang mengakui bahwa acuan Wayang Potehi di Indonesia sekarang berada di Jawa Timur. Sedangkan di satu masa Semarang pernah memiliki seorang dalang terkemuka. Pemerintah Kota Semarang seyogyanya tidak menutup mata akan tantangan berat keberlanjutan tradisi Wayang Potehi. Kesejahteraan para pegiat seni patut dipikirkan, dan idealnya, Wayang Potehi memiliki kesempatan lebih untuk ditampilkan, bukan hanya setahun sekali ketika Tahun Baru Imlek dirayakan.

 

Editor: Yvonne Sibuea


Share the knowledge!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Related Post

Leave a Comment