Share the knowledge!
  • 88
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    88
    Shares

“Menurut saya, orang Cina yang masih tidak mau disebut Cina, tapi maunya disebut Tionghoa; orang-orang itu menurut saya masih terus berada di bawah cengkeraman Orde Baru. Anda tentunya boleh berpendapat lain, dan saya minta maaf kalau anda merasa tidak nyaman dengan penyebutan itu,”

tanpa tedeng aling-aling Dr. Widjajanti Dharmowijono menyampaikan sikap politiknya mengawali paparan yang ia sajikan pada audiens peluncuran novel Membongkar yang Terkubur karya Dewi Anggraeni.

Pernyataan sikap ini tidak dengan mudah diambil Inge, panggilan akrab Dr. Widjajanti Dharmowijono. Ia menempuh sebuah proses panjang menelusuri jejak leluhurnya yang memakan waktu bertahun-tahun.

Peluncuran Novel “Membongkar yang Terkubur”, Semarang, 7 Februari 2020 || Foto: Yvonne Sibuea

Penelusuran pribadi yang dijalani Inge ini mempunyai banyak kemiripan dengan latar belakang kisah fiksi sejarah Membongkar yang Terkubur karya Dewi Anggraeni. Karenanya, paparan berjudul “Melacak Kiprah dan Ulah Leluhur Menembus Kabut Prasangka dan Stereotip. dianggap tepat untuk disajikan pada momen peluncuran novel Dewi, 7 Februari 2020 lalu.

Sebelum melanjutkan paparan, Inge meminta izin menggunakan istilah Cina dan “pribumi”. Penggunaan istilah “pribumi” dipilih karena alasan praktis; yaitu menyatukan semua etnis non-Cina yang lebih awal mendiami Nusantara. Sedangkan penggunaan istilah Cina itu seratus persen karena alasan politis.

Memiliki kakek moyang seorang Tan Tiang Tjing – Mayor Cina pertama di Hindia Belanda; yang menurut istilah Liem Thian Joe dalam buku legendaris Riwayat Semarang – digolongkan sebagai orang Cina “cabang atas” menjadi beban berat untuk Inge.

Orang Cina “cabang atas” diberi keistimewaan untuk dapat membeli berbagai hak monopoli distribusi komoditi penting seperti gula dan garam; serta produk kontroversial – candu. Mereka juga diberi wewenang oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk memungut pajak. Fakta ini memicu rasa tidak suka banyak pihak yang berimbas hingga generasi-generasi berikut.

“Inge” Widjajanti Dharmowijono || Foto: Siek Liang Thay

Inge sempat menanggung beban rasa bersalah ketika pecah Kerusuhan Mei 1998. Ia benar-benar merasa peristiwa tersebut adalah semacam “hukuman” bagi orang Cina. Walau kerusuhan itu tidak merebak hingga ke Semarang, tempat Inge dan keluarganya bermukim; peristiwa itu sangat traumatis baginya.

Timbul pertanyaan-pertanyaan di benak Inge, “Mengapa bisa terjadi?”, ” Kok bisa-bisanya?”

Pendapat-pendapat yang Saling Bertolak Belakang

Inge mengamati, setelah Kerusuhan Mei1998 cukup banyak tokoh; baik yang benar-benar sejarawan maupun non-sejarawan, ingin mengulas tentang sebab musabab peristiwa tersebut; antara lain Kwik Kian Gie.

Menurut Kwik Kian Gie (1998), akar konflik antara Cina dan Pribumi di tanah Hindia Belanda terjadi karena

orang Cina dianakemaskan oleh penjajah; sehingga keadaan itu harus diluruskan dengan cara menghukum orang Cina.

Sebaliknya, seorang peneliti Jepang Takashi Sirayuki; dalam bukunya yang diterbitkan tahun 1997 satu tahun sebelum kerusuhan Mei 1998, Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926 berpendapat,

”Penguasa Belanda terlalu overacting melindungi orang pribumi. Itu akibat politik etis yang menjadi politik kolonial pada tahun 1900. Sehingga sebaliknya orang Cina justru dimarjinalisasi, dipariakan.”

Atas pendapat-pendapat yang saling bertolak belakang tersebut, kembali muncul rasa ingin tahu Inge:

“Apa saja sih yang dilakukan orang Cina- termasuk leluhur saya di zaman Belanda; dan apa juga yang dilakukan orang Belanda zaman itu sehingga muncul anggapan-anggapan yang saling bertentangan. Sebenarnya orang Cina itu dianakemaskan atau dipariakan?”

Rasa penasaran membuat Inge bertekad menelusuri mana yang benar; walaupun ia menyadari sepenuhnya bahwa ia tidak memiliki latar belakang studi sejarah. Studi mayor Inge sebelumnya adalah linguistik Bahasa Inggris, bukan Bahasa Belanda juga.

Menindaklanjuti tekadnya, Inge memulai studi doktoral dengan disertasi berjudul “Persepsi tentang Orang Cina pada Karya Sastra Orang Belanda Periode 1840-1950” lebih dari 10 tahun lalu.

Menelaah ratusan dokumen berbahasa Belanda selama menyelesaikan disertasi; Inge mengetahui terlalu banyak kisah kelam orang-orang Cina cabang atas – pemungut pajak yang mencekik leher, pelaku dagang yang tidak adil, perampas gadis-gadis di bawah umur untuk dijadikan gundik. Pengetahuan ini menggelisahkan Inge, hingga ia memutuskan untuk terus menggali informasi lebih dalam.

Temuan-temuan dalam Karya Sastra Orang Belanda dan Informasi Lainnya

Inge memulai dengan memburu informasi tentang leluhurnya, karena ia ingin tahu, leluhurnya itu ngapain aja. Dan merasa senang sekali menemukan nama Tan Bing, yang berdasarkan informasi dari ayah Inge; adalah leluhur marga Tan yang pertama datang dari Tiongkok ke Semarang.

Dalam buku Riwayat Semarang, karya Liem Thian Joe yang sangat terkenal itu, Inge menemukan nama leluhurnya, Tan Bing. Tan Bing disebutkan tiba di Semarang dengan tangan kosong alias tidak punya apa-apa. Kéré.

Hal ini, informasi bahwa Tan Bing datang ke Semarang dengan tangan kosong, disangkal oleh kerabat Inge, T.I., Tan (Tan Tjoan Ik). Tjoan Ik bukan sejarawan, melainkan ekonom, tapi dia képo dan ingin mengetahui apakah cerita-cerita mengenai Tan Bing yang didengar dari ayahnya dan paman-pamannya; antara lain ayah Inge; benar.

Menurut Tjoan Ik, Tan Bing bukan orang Cina kéré, sebaliknya ia memiliki kapal. Dan julukannya, Juragan Bing tidak mengacu kepada arti juragan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, yaitu majikan, taoke, tuan; tetapi pada arti kedua yaitu kapten, mualim, nakhoda, pemimpin kapal.

Dengan cepat, berkat bisnis gula, Tan Bing menjadi kaya raya. Ia memiliki kapal yang mengangkut gula ke dalam dan ke luar Nusantara. Setelah tua, Tan Bing menyerahkan bisnisnya pada putranya yang ketiga yaitu Tan Tiang Tjing yang pada tahun 1829 diangkat menjadi Mayor Cina pertama di Hindia Belanda.

Papan peringatan pengangkatan Tan Tiang Tjing menjadi Mayor Cina pertama di Hindia Belanda. Lokasi: Klenteng Hwie Wie Kiong Semarang. || Foto: Koleksi Widjajanti Dharmowijono

Klenteng Se’ong atau Klenteng Hwie Wie Kiong di Jalan Sebandaran I Semarang menyimpan papan-papan peringatan peristiwa pengangkatan ini. Reputasi keluarga Tan dapat disetarakan dengan keluarga kaya lainnya, Oei Tjie Sien dan putranya, Raja Gula Asia – Oei Tiong Ham. Karenanya, Inge tidak terlalu kaget melihat nama Tan Bing disebut dalam buku terkenal karya James Rush “Opium to Java – Revenue Farm and Chinese Enterprise in Colony of Indonesia 1850-1910

Dalam Opium to Java, James Rush mengutip seorang pensiunan tentara Belanda bernama M.T.H Perelaer, yang menulis novel tebal berjudul Baboe Dalima terbitan 1886  mengenai opium pachter atau bandar opium/candu di Semarang.

Novel Baboe Dalima disebut sebagai tendens roman atau novel politik oleh Rob Nieuwenhuis, sastrawan Indies Belanda yang paling berpengaruh. Novel Baboe Dalima memang ditulis untuk menjatuhkan perdagangan opium yang ada di tangan orang Cina. Karena orang Cinalah yang mempunyai modal, jaringan perdagangan dengan pedalaman artinya dengan penduduk lokal; dan sumber daya manusia – antara lain para mata-mata yang sangat penting, yang cukup untuk menjalankan bisnis yang besar dan luas ini.

Baboe Dalima karya M.T.H Perelaer || Foto: Boekwinkeltjes.nl

Bandar opium haruslah orang yang sangat kaya, biasanya opsir Cina. Orang-orang yang disebut ‘cabang atas’ oleh Liem Thian Joe. Hanya mereka yang mampu membayar uang pacht yang berjumlah 2 juta gulden di waktu itu.

Memang Perelaer tidak menyebut nama leluhur Inge, tetapi sudah jelas ia terinspirasi oleh ulah para opium pachter di Semarang pada saat itu. Ia menulis Baboe Dalima tahun 1886 yang merupakan tahun-tahun kemunduran dan akhirnya kejatuhan sistem pacht. Pemerintah kolonial sudah punya SDM sendiri yang cukup untuk mengelola bisnis opium. Mereka (konon) ingin melindungi penduduk pribumi terhadap opium pachter Cina. Nyatanya Belanda mendirikan Opium Regie yang malah lebih meluas dan mendatangkan keuntungan jauh lebih banyak daripada sistem pacht yang terdahulu.

Di mata Perelaer, orang Cina adalah bandar opium yang menyalahgunakan rakyat pedesaan meskipun novelnya juga penuh kecaman terhadap pejabat kolonial yang haus penghargaan dari pemerintah pusat di Belanda.

Penulis lain selain M.T.H Perelaer yang banyak menulis tentang orang Cina khususnya di Semarang adalah J.W. Young. Inge gagal menemukan keterangan tentang Young dan hidupnya, hanya bahwa ia adalah penerjemah untuk Bahasa Cina dan mempunyai pengetahuan lebih luas tentang adat istiadat dan kehidupan orang Cina terutama di Semarang.

Satu cerita khusus yang menarik dari Young, menceritakan nasib seorang opsir Cina sekaligus bandar dan penyelundup opium dihukum dan diasingkan ke Sumatra. Di akhir cerita opsir Cina itu memutuskan pindah ke Singapura dan mengelola bisnisnya dari sana. Ketika ia hendak berangkat naik kapal, ratusan warga Cina Semarang mengelu-elukan ia; karena ia begitu banyak berbuat kebaikan untuk mereka, khususnya untuk orang-orang miskin.

J.W. Young melihat para opsir Cina dalam kehidupan mereka sehari-hari dengan pandangan yang relatif seimbang.

Inge juga meneliti tentang seorang penulis yang menamakan diri Werumeus Buning, karena ia secara terbuka menyatakan mengapa ia dan orang Eropa pada umumnya membenci orang Cina. Ada enam alasan, tapi Inge tidak menyebut enam-enamnya. Inge hanya menyebut alasan nomor tiga yang dianggapnya sebuah alasan yang lucu.

Buning menyebutkan, orang Cina sangat cerdik sehingga banyak orang Eropa tidak dapat memaafkan mereka, karena dalam bidang kecerdikan orang Eropa kalah telak. Mereka ingin sama cerdiknya dengan orang Cina, kalau bisa bahkan lebih cerdik lagi. Jadi Buning pribadi merasa sebal sekali dengan orang Cina karena mereka ia anggap lebih cerdik. Weremeus Buning, berfokus menyorot kehidupan para Cina kelontong dan cara mereka menjadikan diri lebih kaya daripada orang Eropa. Itu juga sesuatu yang tidak bisa dimaafkan. Dia iri dan karena itu benci.

Buat W.A. van Rees, orang Cina adalah musuh yang harus dibunuh, tapi ada pujian juga untuk daya juang dan keberanian penambang emas Cina di Borneo. 

Perbedaan representasi orang Cina dari keempat penulis Belanda tersebut memperlihatkan heterogenitas orang Cina di Nusantara.

Penelitian Inge mengenai stereotip pada akhirnya justru mampu menyembuhkan dirinya dari rasa bersalah yang berkepanjangan.

Inge mendapati, stereotip bukan gambar seutuhnya tapi semacam karikatur. Stereotip dibuat sedemikian rupa; sehingga yang sedikit menonjol dibuat menonjol sekali. Yang sebagian kecil buruk dipukul rata menjadi semua buruk.

Stereotip tidak pernah sepenuhnya salah, tapi tidak pernah benar secara mutlak.

Inge kini memiliki kesanggupan untuk tidak mengelak ketika dipanggil “orang Cina”, yang bagi mayoritas warga dengan asal leluhur dari Tiongkok dirasakan sebagai sebuah hinaan.

Kesadaran bahwa tiap individu apapun etnisnya memiliki sifat baik sekaligus buruk, membawa Inge menghapus secara mandiri – stigma yang tadinya ia lekatkan pada para leluhurnya orang Cina. Sebuah perjalanan panjang untuk berdamai dengan diri sendiri, proses panjang yang tak sia-sia.

Facebook Comments

Share the knowledge!
  • 88
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    88
    Shares
  •  
    88
    Shares
  • 88
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *